Aku Mencemburui Mereka,
Yang terbangun di akhir sepertiga malam, mendirikan sholat dalam keheningan, kemudian bermunajat panjang. Ia tak peduli kapan doa menjadi kenyataan, yang diyakini saat itu Allah turun ke bumi mendengar semua pinta dan pasti akan mengabulkan.
Sembari menunggu adzan berkumandang, mushaf dibuka dan dibacanya perlahan-lahan. Dia kuatkan jiwanya dengan bacaan Qur'an, karena tahu urusan di siang hari nya akan sangat panjang dan melelahkan.
Cemburu sekali aku dibuatnya,
Setelah adzan subuh tiba, ditunaikannya sholat sunah dua rakaat, yang pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya. Kemudian subuh berjamaah di masjid terdekat, yang jamaahnya disaksikan para malaikat.
Tak mau melewatkan kesempatan saat Allah berbagi rahmat, selepas dzikir panjang, dilanjutkannya murajaah dan menambah hafalan. Hingga terbit mentari pagi, mereka dirikan sholat sunah lagi, yang pahalanya seperti umrah dan haji, sempurna lagi diberkahi.
Ya, cemburu sekali hati ini,
Ditungguinya matahari sedikit meninggi. Ditunaikan hak sedekah atas semua persendiannya. Merekapun sholat dhuha, menghatur hajat untuk semua rejeki agar dicukupkan. Kemudian siap melanjutkan aktivitas harian.
Dilakukannya rangkaian amal sedari sepertiga malam hingga pagi datang, istiqomah berpekan-pekan. Bagaimana aku tidak cemburu pada yang seperti itu?
Ya Allah, mampukan kami menjadi golongan mereka yang Engkau beri nikmat atasnya. Cemburu sekali aku dibuatnya.
[] @Aleikhwan01
Seberapa banyak kau boleh mengagumi seseorang dalam diam? Sebanyak kau siap ditelikung dalam persimpangan. Mungkin akan sedikit sakit, tapi tidak ada yang tahu. Dan tidak akan lama.
Maka baiknya, kagumi pensifatan dan karakter yang kau inginkan. Bukan si doi jilbab pink pakai kacamata atau si manis jilbab ijo yang pakai ransel di pinggang nya atau si santika yang sering pakai masker di jalan raya. Bukan! Karena yang by name seperti itu banyak yang nge take dan rawan di telikung teman di persimpangan. Dan kau tahu sendiri bagaimana rasanya. Kecewa.
Tapi, kagumi pensifatan dan karakter nya saja. Lebih aman. Kalau si doi yang itu di ambil orang, masih ada doi doi yang lain yang sifat dan karakter nya serupa, bisa jadi malahan lebih baik kualitas nya. Ya, se kualitas dengan kamu lah seminimal minimal nya. Bukankah jodoh ga akan kemana?
Tapi kalau sudah by name yang kamu inginkan, bahaya! Apalagi kamu tidak berani menikahinya sebulan dua bulan kedepan, bisa bisa hatimu masuk data BMKG rawan bencana. Sewaktu waktu akan ada gempa bumi atau gunung meletus di sana.
Dikelola yang manis ya kalau jatuh cinta. Ya, semanis senyum kamu ituu.
Karena pengecut namanya, mengetuk pintu yang belum tentu dimasuki. Itu hati manusia, tauk! Bukan jendela komputer, yang bisa kamu klik kanan refresh kapanpun kamu mau kemudian pura-pura lupa seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Sudahlah. Lupakan baper, ke-ge-er-an, terlalu peka, pehape, dan diksi sejenisnya. Tak ada asap tanpa api. Hujan takkan jadi pelangi tanpa cahaya matahari.
Interaksi sewajarnya saja. Jangan menyiksa orang dengan membiarkannya berbunga-bunga dalam prasangka.
[] @Aleikhwan01
Selain Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah itu Maha Romantis, gan! Ya jauh, Jauuuh lebih romantis bila dibandingkan pasangan muda mudi kekinian.
Bagaimana tidak, seringkali banyak perkara tak terduga yang terjadi dan diberikan. Surprise, kalau kata remaja kekinian. Mungkin kamu pernah mendengar ada pemuda merayu pemudi dengan mengatakan cintaku padamu tak bersyarat? Ya, aku sendiri dulu pernah melakukannya. Ngiayahaha. Karena nyatanya, seringkali Dia memberi banyak hal yang bahkan tak kita minta. Kamu pernah mengalaminya?
Sederhana sekali, seperti pagi ini.
"Njenengan pernah berdoa untuk hal ini tidak, pak?" Tanyaku pada beliau. "Tidak." Jawabnya. Ya, beliau dijadwalkan akan naik haji pada 2017, tapi kemarin lusa dapat rejeki untuk umrah gratis bulan depan. Pagi ini, selepas subuh, kami membincang cara Allah membagi rejekiNya.
Sederhana sekali, seperti pagi ini.
"Semoga lemper atau tahu" Bisik pelanku pada rekan di kajian. Ya, padahal Allah tahu betul saya ga suka roti, tapi beberapa pekan ini makanan itu jadi snack di kajian pagi. Kamu tahu apa yang terjadi? Justru snack lemper tahu terhidang bebarengan, padahal aku cuma minta salah satunya. Double pula porsinya. Jelas aku terkejut senang berbahagia menerimanya.
Sederhana sekali, seperti pagi ini.
"Wih, batik nya bagus banget." Basa basi ku pada temen kost yang lagi ngelipetin baju. "Mau?" Tawarnya antusias. "Seribu ini?" Tanyaku kegirangan meminta kepastian. Maka baju Itu pun berpindah kepemilikan.
"Wayarzuqhu min khaisu laa yahtasib, ... Dan memberinya rejeki dari arah yang tiada terduga duga." QS at Thalaaq ayat tiga. Pernah kamu meragukan JanjiNya?
Sederhana sekali, seperti sore itu, suara dari telepon seluler memberitahu,
"Le..." Ibu mengawali kalimatnya. "... Ini ada tamu sekeluarga, lengkap ayah ibu dengan anak perempuannya. Ngajak besanan berkeluarga. Kamu bagaimana?" Lanjut beliau dalam tanya.
Ya, dari arah yang tak terduga. Sayangnya, ilustrasi terakhir hanya fiktif belaka. Ngiayahaha.
Yang jelas aku mengajakmu sepakat pada satu perkara. Saking romantisnya, seringkali Allah menahan begitu lama pemberiannya, atau kadang mempercepat kejutannya. Semuanya pasti mengindah mesra berkawan kesabaran. Mari mensyukuri kenikmatan.
[] @Aleikhwan01
Bagaimana tidak, seringkali banyak perkara tak terduga yang terjadi dan diberikan. Surprise, kalau kata remaja kekinian. Mungkin kamu pernah mendengar ada pemuda merayu pemudi dengan mengatakan cintaku padamu tak bersyarat? Ya, aku sendiri dulu pernah melakukannya. Ngiayahaha. Karena nyatanya, seringkali Dia memberi banyak hal yang bahkan tak kita minta. Kamu pernah mengalaminya?
Sederhana sekali, seperti pagi ini.
"Njenengan pernah berdoa untuk hal ini tidak, pak?" Tanyaku pada beliau. "Tidak." Jawabnya. Ya, beliau dijadwalkan akan naik haji pada 2017, tapi kemarin lusa dapat rejeki untuk umrah gratis bulan depan. Pagi ini, selepas subuh, kami membincang cara Allah membagi rejekiNya.
Sederhana sekali, seperti pagi ini.
"Semoga lemper atau tahu" Bisik pelanku pada rekan di kajian. Ya, padahal Allah tahu betul saya ga suka roti, tapi beberapa pekan ini makanan itu jadi snack di kajian pagi. Kamu tahu apa yang terjadi? Justru snack lemper tahu terhidang bebarengan, padahal aku cuma minta salah satunya. Double pula porsinya. Jelas aku terkejut senang berbahagia menerimanya.
Sederhana sekali, seperti pagi ini.
"Wih, batik nya bagus banget." Basa basi ku pada temen kost yang lagi ngelipetin baju. "Mau?" Tawarnya antusias. "Seribu ini?" Tanyaku kegirangan meminta kepastian. Maka baju Itu pun berpindah kepemilikan.
"Wayarzuqhu min khaisu laa yahtasib, ... Dan memberinya rejeki dari arah yang tiada terduga duga." QS at Thalaaq ayat tiga. Pernah kamu meragukan JanjiNya?
Sederhana sekali, seperti sore itu, suara dari telepon seluler memberitahu,
"Le..." Ibu mengawali kalimatnya. "... Ini ada tamu sekeluarga, lengkap ayah ibu dengan anak perempuannya. Ngajak besanan berkeluarga. Kamu bagaimana?" Lanjut beliau dalam tanya.
Ya, dari arah yang tak terduga. Sayangnya, ilustrasi terakhir hanya fiktif belaka. Ngiayahaha.
Yang jelas aku mengajakmu sepakat pada satu perkara. Saking romantisnya, seringkali Allah menahan begitu lama pemberiannya, atau kadang mempercepat kejutannya. Semuanya pasti mengindah mesra berkawan kesabaran. Mari mensyukuri kenikmatan.
[] @Aleikhwan01
Tahu apa yang paling menyenangkan dalam persahabatan? Mengalah.
"Jika persahabatan adalah sebuah kompetisi,... " Temanku
membuat pengandaian. "... Maka kitalah pemenangnya." Lanjutnya menasihati.
Ya, justru harusnya kita mendewasa karena menjadi lebih banyak evaluasi
diri.
Sudahlah, lupakan egoisme diri dan mencari pembenaran atas kesakitan
yang orang lain alami bersebab interaksinya dengan kita. Segeralah mengalah dan
mengawali meminta maaf. Cukup, jangan lagi mengkambing hitamkan baper sebagai
penyebab kerumitan hubungan persahabatan yang dialaminya.
Rawatlah persahabatan sebanyak apapun ia menggores luka. Terbiasalah
jika selalu ditempatkan pada posisi yang salah. Ya, mungkin akan sedikit makan
ati dan menjenuhkan. Situasi rumit seperti itu memang susah dilupakan, tapi
harus dimaafkan.
Bersabarlah bersama malam, Doakan mereka dalam diam.
[] @Aleikhwan01
Gak usah terlalu fokus ama foto tiga jam tangan nya, gue kagak ada
ikatan kerja ama brand manapun dan tidak dalam rangka ngiklanin merk apapun.
Jam paling kiri boleh nemu, masih bagus, tapi karena warnanya terlalu girly,
gengsi gue makainya. Yang tengah ga terlalu bagus karena harganya cuma 35k beli
di pameran buat gaya-gayaan biar kekinian, punya jam tangan. Yang paling kanan,
boleh nemu juga. Pernah rusak terus gue servis in, tapi seminggu kemudian rusak
lagi, nyebelin tauk. Apasih, ga penting banget bukan?
"Waktu terus berlalu. Tanpa kusadari yang ada hanya, aku dan
kenangan. Masih teringat jelas, senyum terakhir yang kau beri untukku"
Yang nglewatin masa mudanya di era sembilan puluhan, pasti bacanya
sambil nyanyi. Tak bisa dielakkan lagi, itu memang lagunya Element, Rahasia
Hati.
Ya, masih tentang waktu. Gue sering denger orang-orang menyematkan kata
molor dan ngaret kepadamu. Padahal, apa salahmu wahai kolor dan karet? Sehingga
orang begitu banyak membencimu.
Masih teringat jelas, tapi bukan tentang senyum terakhirnya si doi
kepadaku. Bukan. Karena nyatanya, tak sedikitpun dia sadar atas rasa yang
tumbuh menggelegar menjalar di semua persendianku. Ini apasih? Fokus fokus. Ya,
masih teringat jelas dulu sewaktu berlembaga berjiwa mahasiswa muda. Kalau ada
seribu agenda rapat yang pernah gue ikuti, maka 800 nya tak tepat waktu. Yang
200 lagi bagaimana? Jangan kau tanyakan pada rumput yang bergoyang, sudah jelas
sama saja, ngaret dan molor dimana-mana.
"Pak, yang lain kemana?" Keluh seorang rekan lembaga
menampakkan kejenuhannya. Wajar saja, ini anak memang istiqomah tepat waktu
kalau ada rapat dan janji.
"Tugas kamu itu satu: Ontime. Tidak perlu mengeluhkan kemana yang
lain kok belum datang. Biarkan energi kebaikanmu mewarnai" Jawab ku
meyakinkan. Gue emang seringkali mendadak bijak kalau lagi punya duit banyak.
Apa hubungannya? Sudahlah lupakan.
"Ah, ga papa, nanti juga molor mulainya, kita ajukan saja waktu di
undangannya, untuk estimasi ngaretnya" Ada panitia acara yang begitu?
Buaaanyaaakk. Bayangkan saja, kita ini sudah kadung molor sejak dalam fikiran.
Lalu bagaimana? Ya yang sudah terbiasa ontime dilanjutkan, jangan
pedulikan kultur kebanyakan. Datanglah tepat waktu memenuhi janji sebagaimana
jadwal yang diberikan. Sembari nunggu yang lain datang, kamu bisa ikut Dora The
Explorer berpeluang, atau pergi ke barat sama Sun Go Kong ngambil kitab suci,
atau ngebantu Son Go Ku ngumpulin Dragon Ball dulu. Atau kalau mau edisi sholih
sholihah, bisa buka mushaf dan tilawah. Menunggu itu terasa lama jika sembari
mengeluhkan keadaan apalagi cuma bengong nungguin yang lain datang. Pernah kamu
di lampu merah baru buka gadget belum sempet bales pesan lampu ijo udah jalan?
Terasa cepet sekali bukan? Beda jika kamu cuma ngeliatin Count Down nya sambil
ngikutin itungannya dalam hati, akan terasa lebih lama, kan?
Kembali lagi pada perkara waktu. Jangan biarkan ngaret ini menjadi
kultur membudaya, dzolim namanya. Dan bagi yang sering telat memenuhi janji,
ngaret datang rapat koordinasi, molor kalau ada instruksi, dengan alasan masih
ngurus itu dan ini, gue mau bilang, ini namanya penghinaan! Kamu kira yang
sering ontime itu pengangguran?
Ayo penuhi muwashofat diri. Harisun al Waqtihi.
@Aleikhwan01
Sedang menasihati diri sendiri.
"Tak kan pernah habis airmataku, Bila ku ingat tentang dirimu..."
Ya, barusan yang kau baca sambil nyanyi itu penggalan lagunya Kerispatih, Mengenangmu. Tapi bukan itu yang mau kita tadabburi. Ini tentang rutinitas tak bertepi yang seringkali melelahkan kita sehari hari.
"Alwaqtu kas-saif, waktu ibarat pedang... idza lam taqtha’ahu, jika kamu tidak memotongnya... qatha’aka, maka dia akan memotongmu” Kamu pernah mendengarkan, bukan? Mengerikan.
Utamanya pada urusan dunia, semakin kita kejar, semakin melenakan. Pernah kamu mengalaminya? Seringkali aku berdarah-darah menghadapinya. Saya kira urusan ini jadi urusan terakhir hari ini, sehingga sore nanti bisa bercengkerama tilawah mesra menyelesaikan targetan harian yang seringkali diduakan. Ternyata adalagi urusan susulan. Semakin aku berpayah-payah bernafsu menyelesaikan, saat itu juga waktuku semakin terasa sempit hingga terlenakan. Maka bijak sekali ulama menasihati, andai seorang manusia memiliki satu lembah emas, niscaya ia akan menginginkan satu lembah lagi untuk dimiliki. Dan begitu seterusnya. Dan semua urusan ini begitu mudah membuat kita lelah, tahu kenapa?
“Dialah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari RIZKI-Nya.”
(QS. Al-Mulk : 15)
Ya, berjalanlah. Berjalan saja. Tapi kita seringkali berlari mengejar dunia, tapi usaha seadanya saja untuk urusan yang jauh lebih indah setelahnya. Padahal jelas perintahnya,
“Maka berlarilah kembali ta’at kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzaariyat : 50)
Sedang kita ini, seringkali terbolik-balik menempatkan urusan, pantas saja mudah lelah menjalaninya.
Sekali lagi, urusan dunia ini takkan pernah ada habisnya, sebanding lurus dengan fitrah syahwat manusiawi, takkan pernah puas seberapapun dipenuhi. Lalu kapan kita akan benar-benar meluangkan waktu bercengkerama dengan al Qur'an, atau bermunajat malam-malam, atau duduk melingkar sepekan-pekan, atau sholat jamaah tanpa menyegerakan berpindah shaff duduknya, atau.... Kapan?
Termasuk kebodohan jiwa, kata Ibnu Athoilah dalam al Hikam, apabila kita menunda amal atas keluangan waktu yang dimiliki.
Kita ini ya, tidak sempat apa tidak mau menyempatkan? Sibuk atau tersibukkan? Atau kebanyakan mengambil rukhsoh sebagai alasan?
Ya, dia memang bagai pegang. Hingga kita sadar nantinya, bahwa takkan pernah habis air mata ini menyesalinya, bila mengingat kelalaian waktu atas amal yang tak tertunaikan.
Ada yang lebih celaka lagi dari orang yang tersibukkan, yaitu ketika urusan dunia tak begitu kepegang, kualitas ibadah juga tak ada peningkatan.
Yaa Allah...
Bagaimana kami ini?
Begitu seringnya kami berdoa meminta surgaMu, tapi tak begitu bagus komitmen kami terhadap waktu.
[] @Aleikhwan01
Ya, barusan yang kau baca sambil nyanyi itu penggalan lagunya Kerispatih, Mengenangmu. Tapi bukan itu yang mau kita tadabburi. Ini tentang rutinitas tak bertepi yang seringkali melelahkan kita sehari hari.
"Alwaqtu kas-saif, waktu ibarat pedang... idza lam taqtha’ahu, jika kamu tidak memotongnya... qatha’aka, maka dia akan memotongmu” Kamu pernah mendengarkan, bukan? Mengerikan.
Utamanya pada urusan dunia, semakin kita kejar, semakin melenakan. Pernah kamu mengalaminya? Seringkali aku berdarah-darah menghadapinya. Saya kira urusan ini jadi urusan terakhir hari ini, sehingga sore nanti bisa bercengkerama tilawah mesra menyelesaikan targetan harian yang seringkali diduakan. Ternyata adalagi urusan susulan. Semakin aku berpayah-payah bernafsu menyelesaikan, saat itu juga waktuku semakin terasa sempit hingga terlenakan. Maka bijak sekali ulama menasihati, andai seorang manusia memiliki satu lembah emas, niscaya ia akan menginginkan satu lembah lagi untuk dimiliki. Dan begitu seterusnya. Dan semua urusan ini begitu mudah membuat kita lelah, tahu kenapa?
“Dialah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari RIZKI-Nya.”
(QS. Al-Mulk : 15)
Ya, berjalanlah. Berjalan saja. Tapi kita seringkali berlari mengejar dunia, tapi usaha seadanya saja untuk urusan yang jauh lebih indah setelahnya. Padahal jelas perintahnya,
“Maka berlarilah kembali ta’at kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzaariyat : 50)
Sedang kita ini, seringkali terbolik-balik menempatkan urusan, pantas saja mudah lelah menjalaninya.
Sekali lagi, urusan dunia ini takkan pernah ada habisnya, sebanding lurus dengan fitrah syahwat manusiawi, takkan pernah puas seberapapun dipenuhi. Lalu kapan kita akan benar-benar meluangkan waktu bercengkerama dengan al Qur'an, atau bermunajat malam-malam, atau duduk melingkar sepekan-pekan, atau sholat jamaah tanpa menyegerakan berpindah shaff duduknya, atau.... Kapan?
Termasuk kebodohan jiwa, kata Ibnu Athoilah dalam al Hikam, apabila kita menunda amal atas keluangan waktu yang dimiliki.
Kita ini ya, tidak sempat apa tidak mau menyempatkan? Sibuk atau tersibukkan? Atau kebanyakan mengambil rukhsoh sebagai alasan?
Ya, dia memang bagai pegang. Hingga kita sadar nantinya, bahwa takkan pernah habis air mata ini menyesalinya, bila mengingat kelalaian waktu atas amal yang tak tertunaikan.
Ada yang lebih celaka lagi dari orang yang tersibukkan, yaitu ketika urusan dunia tak begitu kepegang, kualitas ibadah juga tak ada peningkatan.
Yaa Allah...
Bagaimana kami ini?
Begitu seringnya kami berdoa meminta surgaMu, tapi tak begitu bagus komitmen kami terhadap waktu.
[] @Aleikhwan01
