73599341

Ale Ikhwan Jumali

Berfikir dan berkarya besar. Sesederhana rinai embun yang sabar menunggu mentari pagi.

Latest Posts

Indonesia Berdaya ditanganmu, wahai pemuda (mahasiswa) !

By 16.33 ,

Merdekaaa!!!

Indonesiaku yang kucinta sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945, dan artinya menjelang 68 tahun kemerdekaan. Dimana – mana orang mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia belum merdeka, tapi saya mengatakan sebaliknya. Indonesia tetap Merdeka.

SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA! 

Mereka yang mengatakan bahwa Indonesia masih terjajah adalah sebenarnya jiwa mereka sendiri yang terjajah. Satu lagi yang saya sayangkan adalah kebanyakan para pengumpat tersebut berasal dari kalangan mahasiswa. Allahu ya kharim, apa yang mereka ketahui tentang Indonesia.

Saya sadari dan menyaksikan sendiri betapa rakyat di negeri ini tercabik – cabik oleh keadaan yang menjadikan mereka harus melupakan segala harap nya kepada wakil rakyat di senayan maupun di daerahnya masing – masing. Yang lebih mengherankan lagi adalah setiap adanya masa pemilihan wakil rakyat, rakyatku yang kucintai ini pun mengulangi kesalahan yang selalu mereka lakukan secara periodik lima tahunan. Dengan sejumlah uang yang ditawarkan, suara mereka di beli dalam pesta rakyat tersebut. Dan mereka selalu saja menuntut dan mengumpat kepada wakil rakyat yang mereka pilih dengan imbalan sejumlah uang tersebut. Mengherankan bukan ? lantas, adakah yang salah dengan negeri ku Indonesia? TIDAK, negeriku tetap Merdeka! 

Beralih pada dunia intelektual bernama bangku kuliah nya mahasiswa. Setiap hari di hadapkan pada papan tulis yang harus berulang kali di hapus karena dosen pengampu mata kuliah nya menggunakan system pengajaran konvensional, sehingga mahasiswa lebih mudah jenuh. Sesekali kadang ketemu dengan dosen yang lebih melek IT, semua materi di tampilkan dengan mesin penampil menyerupai lacar tancep, yang dengannya mahasiswa akan memilih asyiek dengan dunianya sendiri kemudian di akhir kuliah tinggal nyolokin flasdisk untuk minta materi. Di lain kesempatan ketemu dengan dosen yang bergelar professor, biasanya hanya akan memberikan sebuah wacana permasalahan, kemudian meminta mahasiswa untuk mencari solusi nya. Kapan mahasiswa di ajak berfikir tentang kondisi Indonesia dan cara memecahkannya? Hanya anak – anak sosial yang terjun langsung memikirkan hal ini, ya meskipun masih sebatas wacana dan diskusi. Adakah yang salah dengan system pembelajaran tersebut? Ataukah mahasiswa sendiri yang sebenarnya belum merdeka?

Saya meyakini bahwa Negeri ku Indonesia berdeka dan berdaya, hanya saja kita sendiri yang seringkali melemahkan kemerdekaan itu, sehingga seolah menjdai lemah tiada daya. Arus globalisasi serta kemajuan di berbagai bidang bisa segera di wujudkan jika rakyat nya terutama mahasiswa yang menjadi garda terdepan nya mempunyai jiwa yang merdeka. Di mulai dari caranya berpakaian ketika kuliah, dari caranya berjalan ketika melewati satpam dan civitas akademika non-pengajar lainnya, dari caranya makan dan apa yang dilakukan saat makan serta setelahnya, dari caranya melewati akhir pecan dan lain sebagainya. Belum lagi tentang bagimana ia mengikuti proses pembelajaran sampai datangnya ujian akhir semester.

Miris hati ini menyaksikan betapa mereka (mahasiswa) berhutang budi terhadap Negara ini beserta segala asetnya (rakyat, hasil bumi). Jiwa mereka belum merdeka dan mereka mengumpat bahwa Negeri Indonesia masih di jajah. Tidak sadarkah mereka bahwa sendiri yang sedang terjajah? Mengaku intelek namun namun jiwa kosong dari nilai – nilai pengabdian. Lantas dimana tridharma pendidikan? Waktu mereka disita oleh tuntutan akademik dan permintaan orang tua untuk segera lulus. Eh kemudian mereka didukung oleh sistem kurikulum yang begitu dipadatkan. Dan kebanggan seorang rektor akan membahana ketika ada sekian ratus mahasiswa yang lulus tepat waktu dengan predikat cumlaude. Hal ini tidak salah, tapi saya sedang menantikan masanya parameter cumlaude adalah dari kontribusi nya terhadap masyarakat dan dalam mewujudkan Indonesia yang mempunyai daya dan kekuatan untuk memerdekakan rakyatnya dalam segala sudut pandang.

Mari coba kita hubungkan paradigma atas kondisi Indonesia yang terpuruk dalam ketidak berdayaan ini dengan keberadaan mahasiwa. Mahasiswa dengan segala jenjang kedewasaannya membawa harapan yang besar terhadap perbaikan bangsa Indonesia. Akan tetapi, dari sekian banyak harapan yang di sematkan oleh rakyat terhadapa keberadaan mereka, seringkali mengecewakan. Lantas masihkah kita berhak mengatakan bahwa indonesai masih terjajah? Karena sebenarnya, jiwa mahasiswa – mahasiswa itulah yang masih terjajah.

Menjadi pemimpin, adalah bagaimana kemudian menjadikan orientasi kepentingan orang banyak itu menjadi orintasi pribadi kita. Dengan demikian kita akan mulai memikirkan bahwa apa yang selama ini kita lakukan, apa yang selama ini kita butuhkan, atau bahkan sekdar apa yang kita inginkan kesemuanya itu hendaklah kita arahkan kepada kemaslahatan dan kepentingan orang banyak. Maka dengan demikian, kita mampu menjadi pemimpin dan siap memimpin rakyat Indonesia untuk bersegera menyadari bahwa bangsanya memang sudah merdeka dalam arti yang sebenar – benarnya. Maka peran mahasiswa yang bisa di ambil untuk mewujudkan bebrapa kondisi tersebut adalah:

1.      Melakukan perubahan – perubahan kecil
a. Tidak titip absen saat kuliah
Ini sederhana sekali. Tapi memberikan efek yang mendunia. Jika berani memutuskan untuk menjadi aktifis dengan se-abreg aktifitas dan agenda lembaga, maka harus berani memutuskan untuk pilihan yang sederhana namun mendunia. Pilihan yang bisa dimabil antara lain cuti atau mengambil mata kuliah yang sedikit. Pilihan pertama mungkin agak extreem. Jadi selama menjabat sebagai aktifis di lembaga publik, aktifitas sepenuhnya hanya untuk lembaga dan melayani semua orang yang berkepentingan terhadap lembaga tersebut. Otomatis pilihan tersebut akan mengantarkan si pemilih untuk menunda kelulusannya. Untuk pilihan yang kedua, dengan mengambil mata kuliah yang sedikit, maka status nya sebagai mahasiswa dan sebagai aktifis akan lebih seimbang. Akan tetapi pada pilihan kedua ini mahasiswa harus menguras tenaganya dan segenap waktunya agar keduanya (lembaga dan akademik) tidak ada yang terdzolimi. Dikarenakan ada beberapa universitas yang membuat kebijakan untuk mahasiswa bisa mengikuti ujian harus memnuhi presensi minimal sekian persen. Akan tidak lucu jika akhirnya seorang aktifis tidak bisa mengikuti ujian karena jarang masuk kuliah.

Belajar menjadi pemimpin yang jujur dengan tidak titip absen.

b. Jujur dalam mengerjakan ujian
Seorang aktifis biasanya jarang belajar karena waktu dan tenaganya lebih asyiek diarahkan untuk memikirkan segala hal yang berhubungan dengan amanah tersebut. Maka yang harus dilakukan adalah memanagemen waktu nya sebaik mungkin agar bisa belajar dengan efektif dan efisien. Jika harus mbolos, maka harus pilih – pilih mata kuliah yang sekiranya bisa belajar sendiri. Dan jika ternyata mendekati ujian, maka harus membawa keyakinan sebesar – besar nya bahwa kita mampu untuk mengerjakan soal yang di buat oleh dosen pengampu. Memahami ciri dan model soal ujian nya, kemudian memahami cara penilaian yang di gunakan oleh dosen terkait. Agar kita tidak ngoyo dalam belajar dan mengerjakan soal ujian. Karena sesungguhnya, yang perlu di sadari adalah kita kuliah itu untuk mendapatkan ilmunya, bukan mendapatkan nilai. Sehingga saat ujian berlangsung kita tidak perlu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai A. Karena yang terpenting adalah berusaha maksimal untuk mendapatkan nilai maksimal.

Belajar membentuk karakter pemberani dan percaya diri.

c. selalu berpakaian rapi saat memasuki area kampus
dengan meakai pakaian yang rapi saat kuliah maupun saat bersantai di area kampus, pada dsarnya adalah sedang memantaskan diri sebagai seorang intelektual dan pemimpin. Karena pakaian yang rapi tersebut akan menjadi perwajahan dari segala cerminan diri kita. Kita akan terbeiasa untuk melakukan hal – hal yang biasa dilakukan oleh orang – orang yang berpakain demikian. Meskipun di negeri ini banyak sekali orang berpakaian rapi namun kepribadiannya tidak rapi. Maka yang harus dilakukan adalah bersegera mengganti mereka dengan gernerasi yang rapi sejak dini. Bersegera mengubah paradigma masyarakat tentang orang pinter yang salah menggunakan kepinterannya. Rapi sejak dini sebelum merapikan Indonesia.

Belajar memantaskan diri.

2.      Mengasah kepekaan dan kepedulian sosial
Keberadaan mahasiswa senantiasa di tunggu kontribusinya oleh masyarakat. Mereka menunggu datangnya para mahasiswa yang berani terjun dan menjadi bagian dari mereka. Hadir ditengah – tengah mereka untuk membawa solusi terhadap segala yang ada.
Dengan hanya melulu duduk di bangku kuliah, ataupun dikamar kost untuk menyelesaikan deadline akademik maka jiwa mahasiswa yang seharusnya ada ruang di dalam nya untuk memikirkan keberadaan rakyat akan tertutup bahkan membeku. Tidak perlu menunggu lulus atapun mempunyai banyak ilmu dan harta untuk bisa berkontribusi terhadap masyarakat. Kepekaan tersebut menjadi bagian dari usaha mahasiswa untuk menyiapkan Indonesia menjadi negara yang berdaya secara amal nyata, bukan sekedar teori – teori akademisi yang tidak pernah sampai kepada solusi yang di butuhkan masyarakat.

3.      Berorientasi menjadi yang terdepan
Alamamater yang dikenakan oleh sesorang serta Kartu Tanda Mahasiswa yang dimiliki tersebut mempunyai nilai jual yang berbeda ketika masih aktif di gunakan untuk melakukan sesuatu hal yang istimewa. Dan saya rasa tidak masalah apakah bersal dari universitas yang negeri ataupin swasta, apakah kedinasan atauakah yang baru merintis untuk berdiri, apakah dari strata S1 ataukah diploma. Karena yang terpenting adalah kontribusi. Karena masyarakat yang sedang kita garap adalah msyarakat kelas menengah ke bawah. Dan yang mereka tahu semua yang kuliah itu statusnya sama sebagai mahasiswa.  

Dan harapan nya pun sama: memberi arti atas keberadaannya.

Keaktifan yang bisa kita lakukan sebagai seorang mahasiswa bisa dengan cara menjadi yang terdepan dalam segala urusan. Terdepan saat duduk kuliah, terdepan saat mengumpulkan tugas, terdepan saat menyapa dosen yang datang mengajar, terdepan saat harus menjadi relawan, terdepan saat dimintai saran, terdepan dalam solusi, terdepan dalam bedialektika, dan lain sebagainya. Karena jiwa yang dimiliki seorang pemimpin dibangun atas dasar keinginan untuk selalu menjadi yang terdepan dalam kontribusi dan amal nyata. Bukan berhenti di atas meja atau pun forum lesehan pekanan. Mereka para mahasiswa harus segera keluar dari lorong – lorong kampus, harus segera keluar dari lobi – lobi ruang kuliah, harus segera keluar dari ruang penelitian mereka untuk segera melakukan amal nyata bersama warga, bersama masyarakat Indonesia yang kita cintai. Karena harapan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaya itu akan selalu ada, bahkan semakin terang benderang membersamai cahaya fajar di ufuk timur. Dan yang perlu disadari dan melekat dihati: 

Mahasiswa adalah garda terdepan dalam mewujudkan Indonesia berdaya.

4.      Mengambil hikmah atas perjalanan sejarah
Bangsa yang baik adalah bangsa yang mengetahui sejarah bangsanya. Terlebih lagi bagi para mahasiswa yang merupakan asset terbesar untuk mewujudkan Indonesai yang berdaya. Kiprah dan perjalan para pendahulu mulai dari yang namanya terabadikan dalam sejarah maupun yang hanya lekat dalam ingatan telah mengantarkan Indonesia menuju kebangkitan yang hakiki. Akan tetapi, kesemuanya itu di nodai oleh pribadi – pribadi intelektual yang tidak rapi proses pendewasaannya. Dengan menjadi bagian dari sejarah, kita akan mengambil banyak nasehat, membenahi yang kurang sempurna dan menyempurnakan yang masih berserakan. Ibu pertiwi menunggu penggerak – penggerak yang dulu pernah menggemparkan dunia. Mereka menggali peradaban kemudian memunculkan peran. Mereka menanam pohon – pohon kebangkitan meskipun mereka sendiri tidak pernah tahu apakah mereka masih hidup disaat kebangkitan itu terwujud.
Satu pertanyaan besar yang muncul di otak saya adalah: sejauh apa mereka para mahasiswa memahami sejarah dari perebutan kemerdekaan Indonesia raya? Bukan sekedar hafal setting terjadinya, tapi nasehat yang bisa di ambil darinya. Ibu pertiwi setiap harinya merontak dan menangis atas setiap kecaman yang menghujat terhadap dirinya. Seolah sudah tidak lagi ada yang optimis terhadap merekahnya pertiwi nusantara, seolah tidak ada lagi yang memuji setiap perjuangan dan usahanya untuk tetap bertahan.

Oh pertiwiku… aku masih setia menemani dan mengakui kemerdekaan mu.

Demikian empat hal sederhana yang coba peulis tawarkan. Jika saja kita masih sering bermasalah dengan hal yang sedrhana, maka pantaskh kita masih menganggap Indonesia belum merdeka? Tidak sahabtku. Indonesia sudah merdeka, dan akan tetap merdeka. Kitalah yang tertidur, kitalah yang masih menutup telinga, kitalah yang masih menutup mata. Ada sekian banyak keindahan dan potensi alam, ada sekian banyak potensi alam dan tenaga terdidik yang siap mengembangkan asa dan harap ibu pertiwi. Kita harus bangkit dan berbenah untuk merubah cara pandang kita terhadap kemerdekaan. Karena sebenarnya jiwa kita yang masih terjajah, dan kita harus segera memerdekakan diri kita dari belenggu penjajahan tersebut.

Indonesia ideal menjadi sebuah kenyataan ketika kiprah mahasiswa di wujudkan sepenuhnya menuju kedekatan terhadap masyarakat. Boleh belajar ke luar negeri, boleh keliling dunia, boleh mempelajari budaya negara lain, dan lain sebagainya. Tapi mari ingat peran yang seharusnya kita lakukan. Allah menurunkan kita dan menetapkan kita untuk dilahirkan di bumi pertiwi ini bukan karena tidak ada alas an. Kita disiapkan untuk perkara yang besar. Yaitu membesarkan Indonesia dan mewujudkan Indonesia berdaya. Dalam segala hal. Berdaya untuk mngoptimalkan segala potensi yang dimiliki, berdaya untuk menghargai setiap karya putar bangsanya, dan berdaya untuk mempertahankan jati dirinya. Semua terasa lebih kuat dan ringan jika dikerjakan oleh pemuda. Sejak dini, mulai hari ini. Mulai dari pemuda. Mahasiswa.

Prioritaskan apa yang kau cintai. Indonesia dulu, Indonesia lagi, dan Indonesia terus. Ibu pertiwi aku mencintaimu…

You Might Also Like

0 komentar