73599341

Ale Ikhwan Jumali

Berfikir dan berkarya besar. Sesederhana rinai embun yang sabar menunggu mentari pagi.

Latest Posts

Jodoh: Bukan Dengan Siapanya, Tapi Bagaimana Proses Mendapatkannya

By 23.08 ,

Menikah, bagi saya pribadi memang merupakan tema yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Dan sepertinya akan sangat lebih menarik lagi apabila dikerjakan (hehe). Akan tetapi apalah daya, ijin resmi dari orang tua belum keluar (upz).


Apa yang kita fikirkan ketika mendengar kabar tentang pernikahan sepasang manusia dengan beberapa kondisi (yang kita ketahui diantara keduanya) sebagai berikut,
1.    Keduanya belum pernah saling kenal sama sekali sebelumnya
2.    Keduanya sekedar saling kenal sebelumnya
3.    Keduanya sudah saling kenal dan seringkali satu amanah sebelumnya
JIka mungkin bisa saya rangkum kepada dua kondisi, maka keadaannya adalah sebagai berikut,
1.    Sama sekali diluar (tidak kita) prediksi bahwa mereka berdua akan menikah
2.    Sudah kita tebak (prediksikan) bahwa mereka berdua saling suka dan akan menikah
Apa yang terlintas pertamakali dari otak kita ketika mendengar sepasang manusia kemudian menikah dengan salah satu kondisi diatas?

Akankah kemudian kita mempunyai hak dan kelayakan untuk memberikan penghakiman atas tiga kondisi yang mengantarkan dua insan manusia tersebut merajut rentetan cerita penyempurna separuh agamanya ini. Siapa kita hingga mempunyai kewenangan sedemikian hingga?

Semisal ada pasangan yang menikah kemudian kita kaget karena diluar perkiraan kita. Sejauh ini yang kita ketahui adalah diantara mereka tidak pernah terjalin hubungan apapun, atau bahkan setahu kita mereka berdua tidak saling kenal. Apa yang pertamakali terbesit dalam otak kita?
“Wah Hebat ya, keren! Luar biasa!”
“Pasti cinta mereka suci, tak ada deep intro antara keduanya. Tak ada saling modus apalagi main api”
“Yang begini ini nih, baru menginspirasi kita. Layak dijadikan teladan bahwa menikah adalah tentang niat yang suci dan tujuan yang jelas”

Begitukah pola fikir kita seharusnya?

Ataukah kemudian ketika ada sepasang manusia yang melangsungkan akad nikah, kemudian kita merasa biasa – biasa saja, tidak ada rasa takjub apalagi kaget. Ya barangkali sekedar mengucap syukur dan kalimat tasbih, dikarenakan kita sudah memperkirakan sebelumnya bahwa antara keduanya memang ada apa – apa.
“Wooo la pantes, orang mereka itu udah deket banget sebelumnya”
“Oh, jadinya mereka menikah tho? Ya baguslah, daripada kena VMJ (Virus Merah Jambu). Atau malahan mereka menikah karena sudah VMJ sbelumnya mungkin”
“Alhamdulillah ya, mereka menikah juga akhirnya. Memang udah deket banget hubungan mereka berdua”

Begitukah sikap dan tanggapan bijak kita?

Ataukah kemudian, ketika yang menikah adalah pasangan orang – orang penting di lembaga, yang kita ketahui memang antara keduanya sering bertemu di forum dan medan 'amal dilapangan yang sama. Ketika kita mendengar mereka menikah, kemudian dengan nyinyir kita memberi ucapan syukur di belakang mereka seraya bergumam kewajaran…
“Wooo yang sering satu amanah itu to? La pantes saja mereka menikah. Mungkin cinta bersemi diantara amanah mereka”
“Ya wajarlah, pasangan ketua dan sekretaris”
“Oh, Pak Ketua dan Bu Kaderisasi menikah tho?”
“Wah pasti dulu waktu mereka satu amanah, ada sesuatu yang tidak sehat antara mereka. Wah, ini gawat kalau nantinya di tiru sama adhek – adhek. Berlembaga jadi tidak sehat”

Begitukah penghakiman yang kita utarakan seharusnya?

Dan sebegitukah kita, berani – beraninya mengurai simpul yang diluar kuasa kita? Memberikan penghakiman dan komentar sekenanya tanpa kemudian mengembalikan segala peristiwa kepada Dzat yang maha mengendalikan segala peristiwa. Bi idznillah, semuanya terjadi. Semua pengantar dan latar belakang sepasang manusia yang kemudian menikah itu sesuai dengan ijin Allah. Dan adakah kehendak Allah yang tidak kita sukai? Dan adakah suatu peristiwa terjadi tanpa seijin dari Allah? Dan adakah suatu perkara terjadi yang atas ijin Allah tersebut akan tetapi tidak baik untuk kita?

Atas semua kemungkinan yang mengantarkan sepasang manusia memadu kasih dalam perjanjian yang agung tersebut, saya pribadi memilih untuk bersegera mengucap syukur, tanpa memberikan penghakiman apapun. Meski apapun latar belakang mereka menikah, ndhak ada masalah bagi saya secara pribadi. Sah, tanpa syarat!
“Alhamdulillah, MasyaAllah! ini semua kehendak Allah. Semoga Allah lancarkan semua urusan mereka berdua sampai dengan walimahannya”

Ya memangnya kenapa kalau mereka belum pernah saling kenal sebelumnya?  Ya memangnya kenapa kalau mereka sudah saling kenal sebelumnya? Ya memangnya kenapa kalau mereka sering satu amanah sebelumnya? Ya memangnya kenapa kalau mereka pasangan pembesar lembaga? Mari tingkatkan ukhuwah dan kebersamaan kita untuk lebih mendahulukan prasangka baik kepada saudara. Percaya sepenuhnya atas proses yang dilewati. Kemudian mengambil satu inspirasi bahwa kita juga harus bersegera mengejarnya, mengikuti jalan – jalan mereka, #Eh  Karena menikah adalah ibadah, segala perantara menujunya kita do’akan adalah bagian dari ibadah juga. Bukan justru membuat daftar kemungkinan prasangka.

Sahabatku yang baik…
Pernahkah terfikirkan kalau suatu saat kita akan hidup serumah dengan orang yang sangat kita benci hari ini, bersahabat hangat dengannya, atau menjalin relasi kerja, dan atau hubungan kultural – struktural  lainnya. Pernahkah?

Pun juga dengan sebaliknya…
Pernahkah terfikirkan bahwa suatu saat nanti kita akan sangat sebel dan atau bahkan membenci orang yang selama ini selalu di dekat kita, yang selalu kita anggap baik dan nyaman menentramkan saat bersamanya. Membenci orang yang kita cintai. Pernahkah berfikir demikian untuk suatu saat nanti?

Ah, sahabatku…
Hidup terlalu singkat jika hanya menganalisa segala peristiwa yang ada didepan kita sekarang. masih ada garis takdir yang sangat "mengejutkan" di suatu ketika nantinya. Sebagaimana yang dikatakan Ust Salim A Fillah,
“Jangan berlebihan, karena sebuah bandul yang mengayun ke kanan, suatu saat juga pasti akan kembali mengayun ke kiri”
Maka tak begitu penting lagi harus dengan siapa kita menikah dan menjalani hidup nantinya. Apakah dengan orang yang tidak kita kenal, dengan orang yang kita kenal, dengan orang yang sering satu amanah, dengan orang yang pernah kita benci, ataukah dengan orang yang memang sudah kita cinta. Tak masalah! Karena masih jauh lebih penting lagi memikirkan bagaimana proses kita untuk menjemput dan mendapatkannya. Daripada sekedar memikirkan kita akan hidup dengan siapa nantinya.

You Might Also Like

0 komentar