73599341

Ale Ikhwan Jumali

Berfikir dan berkarya besar. Sesederhana rinai embun yang sabar menunggu mentari pagi.

Latest Posts

Limapuluh Menit Saja

By 21.12 ,

Menulis adalah salah satu cara saya menasehati diri sendiri. Karena sungguh, diri inipun masih sangat alpha dan jauh dari pitutur yang hendak tersampaikan. Nasehat yang lebih teramat butuh untuk dicambukkan kepada diri.

Imam Asy-Syafi'iy rahimahullaahu ta'ala pernah berkata,
"Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan."
Sedemikian banyak waktu yang Allah berikan kepada kita, namun prioritas kesibukan yang akan menentukan kualitasnya. Sesuai dengan tingkat kesibukan kita masing - masing. Bukan tentang kesibukan kerja, belajar, sosial - bermasyarakat, dan lain sebagainya. Tapi kesibukan berkarib - lekat dengan Sang Pencipta, Allah 'Azza wa Jalla. Kesibukan yang akan menjadikan seonggok daging ini mendapatkan kemuliaan di hadapanNya atau justru sebaliknya.

"Asholatu Imaduddin",
Begitu Rasulullah yang agung mensabdakan. Jika perkara ini tegak maka tegak pulalah 'amalan yang lainnya. Jika hisab atas perkara ini baik, maka baik pulalah hisab atas perkara yang lain. Dan kali ini, mari menghisab diri atas perkara yang kebanyakan orang lalai atasnya. Mari kita perhatikan kelakuan kita dalam ibadah harian lima waktu ini. Sangat singkat, kurang tuma'ninah, dan seringkali kita masih menyempatkan waktu untuk melakukan aktifitas lain di sela adzan - iqomah dan dzikir kita. Astaghfirullah. Betapa sibuknya kita sampai - sampai di waktu asasi kita yang sangat mendasar ini masih kita diskon lagi untuk membuat aktifitas dengan selainNya.

Singkat sekali kita mengalokasikan waktu untuk perkara ini,
2 menit untuk rawatib
4 menit untuk sholat fardhu
2 menit untuk dzikir, dan
2 menit untuk do'a. Bahkan terlebih sering jauh lebih singkat dari itu

Sudah begitu,
Mari mengingat bagaimana kelakuan kita di sepuluh menit harian tersebut. Masih sempet ngobrol, main gadget, lihat notifikasi, balas pesan, buat status, angkat telepon, bahkan bengong. Sesibuk itu kah kita? Kemana saja waktu kita yang duapuluhtiga jam sepuluh menit? tidak sempatkah mengurus itu semua (ngobrol, main gadget, angkat telepon, dll)?

Sempatkanlah,
Limapuluh menit saja (10 menit x lima waktu) dari duapuluhempat jam sehari untuk tidak berinteraksi dengan siapapun kecuali dengan Allah 'Azza wa Jalla. Iya benar, hanya denganNya. Taqarrub ilallah, bermesraan denganNya. Karena jika kita mencukupkan ke - intim - an kita denganNya di limapuluh menit tersebut, InsyaAllah Dia akan mencukupkan segala kebutuhan kita di duapuluhtiga jam sepuluh menit nya. Karena yakinlah, Allah jauh lebih sibuk daripada kita dan Dia masih menyempatkan waktu untuk mengurus segala hajat kita bahkan yang tidak kita minta sekalipun. Jangan sampai kemudian, seperti judul sebuah buku, seolah kita sedang berbisik kepada Allah,
"Maaf Tuhan, saya sedang sibuk"

Satu lagi kelakuan kita yang kurang ahsan adalah dalam berd'oa. Dalam menghaturkan permohonan atas segala hajat kita.

Sudah tahu kita lemah, sudah sadar kita tak mampu apa - apa selain karenaNya, tapi coba bagaimana cara do'a kita? singkat, padat, dan kurang terlekat dalam hati. Atau barangkali, selepas memakai sendal di depan masjid kita sudah lupa apa yang barusan kita panjatkan ke langit. Sudah begitu, seringkali kita kepedean untuk menyingkat segala hajat kita dengan do'a sapu jagat. Padahal hajat kita begitu bejibun dan banyaknya.

Marilah,
Di dua menit durasi waktu yang kita alokasikan untuk berdo'a yang singkat tersebut kita haturkan detail satu persatu hajat kita, hajat kebaikan menurut versi kita, kemudian kita sempurnakan dengan do'a sapu jagat. Biarkan Dia menetapkan mana yang terbaik untuk kita menurut versi langit. Kebaikan di dunia dan di akherat sesuai dengan parameterNya, yang nantinya pasti baik pula untuk kita. Teringat nasehat Ust Salim A Fillah, bahwa berdo'a itu bukan cara kita untuk memberitahukan kepada Allah apa yang kita butuhkan, karena Allah sudah sangat jauh lebih tahu apa yang kita butuhkan. Berdo'a adalah cara kita untuk menunjukkan kesungguhan dan kepantasan diri bahwa kita layak mendapatkan apa yang kita mintakan.
"Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina 'adzabannar"
Kemudian dari sekian banyak hajat yang kita panjatkan, biarkan Dia menetapkan mana yang terbaik untuk kepentingan kita di dunia dan di akherat.

Semoga Allah menyelamatkan kita di hari perhitungan dan mencukupkan hajat kita selama mencari bekal untuk kembali “pulang”.

You Might Also Like

0 komentar