Senandung Rindu
Hujan turun merintik pelan kemudian melebat hebat. Gumpalan udara menggelora bekejaran membentuk angin. Sepanjang jalan kenangan. Kuawali perjalanan dengan suatu penyadaran: tidak ada yang kekal, semua datang dariNya dan akan kembali kepadaNya. Suka ataupun tidak.
Banyak cerita yang selalu saja ingin saya bagi kepadamu, kawan. Ada yang menyatu, ada yang dipisahkan. Siapa kuasa melawan kehendakNya?
Pengamen masih tetap menyanyikan lagu lama yang dia nikmati sendiri. Hampir belum pernah kudapati ada pengamen yang menawarkan kepada penumpangnya minta lagu apa, dia langsung saja menyanyi sedemikan dia rasa lagu itu bagus dan menghibur. kalau kau tak suka, berpuralah tidur. Kadang saya berfikir seperti itulah takdir, dia tidak permisi, tapi kedatangannya pasti baik untuk kita.
Teman, kamu dimana?
Aku sendirian disini, di bus yang tak pernah lelah menggelindingkan rodanya, entah sudah berapa kali ia memutar. Ada sih banyak orang disini, tapi tak satupun kami merasa sama. Hanya satu ynag menyatukan kami, kami sama – sama penumpang, itu saja.
Teman, apakah ada alasan untuk kita tetap bisa menyatu?
Akankah kebersamaan ini juga kembali padaNya?
Pengamen sudah selesai bernyanyi. Dan lagi, tanpa sepersetujuan kami, dia meminta uang receh kepada kami, meskipun ada yang tidak mendengarkan dan menghiraukannya.
Okeylah tak mengapa.
Tapi saya terheran, padahal ada uang recehan yang sudah saya siapkan, eh gak ada pas dia mendekat. Mungkin bukan rejekinya dia. Dan seperti itulah takdir, seringkali tak sesuai dengan rencana kita.
Hujanpun sudah menyelesaikan hajatnya, masih sedikit gerimis yang membersamai muncul kembalinya cahaya matahari. Ada hikmah baru yang kudapati, bahwa roda takdir akan terus berputar seperti berputarnya roda bus yng kunaiki sekarang. Ia (takdir) akan terus saja mempergilirkan peran untuk dimainkan, tidak hanya bagi manusia, tapi juga alampun tak luput dari pembagian peran tersebut.
Teman, kau dimana ?
Terlalu banyak perbedaan di antara kita, dan aku ingin segera bertemu denganmu, menceritakan semua yang kualami, semua yang terjadi diantara kita bersama, dan aku ingin segera menyelesaikannya. Terlalu lama kita begini. Membuai rasa tentang cinta, rindu, kebersamaan bersenandungkan ukhuwah. Tapi tetap saja akan ada perpisahan.
Maha kuasa Allah untuk memisah dan menyatukan hambaNya. Semoga di Syurga kita berjumpa. Tidak ada lagi gelisah dan kekhawatiran, semua kekal. Disana kita akan kembali membincangkan tentang nikmat yang tak berkesudahan yang sering kita gadang – gadang dulu.
Aku rindu pada kalian.
Pelangi dan mentari tetap saling pandang meski jarak memisah terlalu lama antara mereka. Tentang butir air yang gemercik perlahan dari langit kemudian terbias oleh sinar mentari. Aku masih akan mencintaimu dengan sederhana, menjaganya dengan sederhana, dan menyalurkannya dengan sederhana. Dan engkaupun tahu, dengan kesederhanaan itu aku ingin mendapatkan syurgaNya, bersamamu…
Banyak cerita yang selalu saja ingin saya bagi kepadamu, kawan. Ada yang menyatu, ada yang dipisahkan. Siapa kuasa melawan kehendakNya?
Pengamen masih tetap menyanyikan lagu lama yang dia nikmati sendiri. Hampir belum pernah kudapati ada pengamen yang menawarkan kepada penumpangnya minta lagu apa, dia langsung saja menyanyi sedemikan dia rasa lagu itu bagus dan menghibur. kalau kau tak suka, berpuralah tidur. Kadang saya berfikir seperti itulah takdir, dia tidak permisi, tapi kedatangannya pasti baik untuk kita.
Teman, kamu dimana?
Aku sendirian disini, di bus yang tak pernah lelah menggelindingkan rodanya, entah sudah berapa kali ia memutar. Ada sih banyak orang disini, tapi tak satupun kami merasa sama. Hanya satu ynag menyatukan kami, kami sama – sama penumpang, itu saja.
Teman, apakah ada alasan untuk kita tetap bisa menyatu?
Akankah kebersamaan ini juga kembali padaNya?
Pengamen sudah selesai bernyanyi. Dan lagi, tanpa sepersetujuan kami, dia meminta uang receh kepada kami, meskipun ada yang tidak mendengarkan dan menghiraukannya.
Okeylah tak mengapa.
Tapi saya terheran, padahal ada uang recehan yang sudah saya siapkan, eh gak ada pas dia mendekat. Mungkin bukan rejekinya dia. Dan seperti itulah takdir, seringkali tak sesuai dengan rencana kita.
Hujanpun sudah menyelesaikan hajatnya, masih sedikit gerimis yang membersamai muncul kembalinya cahaya matahari. Ada hikmah baru yang kudapati, bahwa roda takdir akan terus berputar seperti berputarnya roda bus yng kunaiki sekarang. Ia (takdir) akan terus saja mempergilirkan peran untuk dimainkan, tidak hanya bagi manusia, tapi juga alampun tak luput dari pembagian peran tersebut.
Teman, kau dimana ?
Terlalu banyak perbedaan di antara kita, dan aku ingin segera bertemu denganmu, menceritakan semua yang kualami, semua yang terjadi diantara kita bersama, dan aku ingin segera menyelesaikannya. Terlalu lama kita begini. Membuai rasa tentang cinta, rindu, kebersamaan bersenandungkan ukhuwah. Tapi tetap saja akan ada perpisahan.
Maha kuasa Allah untuk memisah dan menyatukan hambaNya. Semoga di Syurga kita berjumpa. Tidak ada lagi gelisah dan kekhawatiran, semua kekal. Disana kita akan kembali membincangkan tentang nikmat yang tak berkesudahan yang sering kita gadang – gadang dulu.
Aku rindu pada kalian.
Pelangi dan mentari tetap saling pandang meski jarak memisah terlalu lama antara mereka. Tentang butir air yang gemercik perlahan dari langit kemudian terbias oleh sinar mentari. Aku masih akan mencintaimu dengan sederhana, menjaganya dengan sederhana, dan menyalurkannya dengan sederhana. Dan engkaupun tahu, dengan kesederhanaan itu aku ingin mendapatkan syurgaNya, bersamamu…


0 komentar