73599341

Ale Ikhwan Jumali

Berfikir dan berkarya besar. Sesederhana rinai embun yang sabar menunggu mentari pagi.

Latest Posts

Surat Cinta Untuk Golongan Putih

By 21.16 ,

Salam keadilan!

Sahabatku,
Saya perhatikan sampai sekarang engkau masih begitu gethol nya memaki – maki demokrasi dengan segala keburukan dan kekurangannya, memperjuangkan syariat islam yang kau bilang syamil dan harga mati, kemudian masuk golongan putih (golput) pada sistem yang kau bilang kufur ini. Akupun mencoba menahanmu, tapi engkau tak menghiraukanku. Ya sudah, silahkan saja!

Sahabatku,
Sepertinya sikapmu yang tak peduli lagi pada pemilu lebih dikarenakan kau sudah tak lagi percaya pada wakil rakyat yang terdaftar di kertas suara itu, mereka tidak ada bedanya satu sama lain. Sama – sama mengejar kekuasaan dan lupa pada rakyat yang telah memilihnya. Kemudian di pemilihan presiden nanti sepertinya sikapmu tidak akan jauh berbeda. Engkau masih tidak ingin menggunakan hak pilihmu karena dua calon yang disuguhkan tak satupun memenuhi kriteria pemimpin yang kamu inginkan. Benarkah begitu sahabatku?

Sahabatku,
Jika memang demikian sikapmu, jika memang sudah membulatkan tekad untuk golput, saya berharap kamu memikirkannya sekali lagi. Sebenarnya bagi saya, silahkan saja jika kecewa pada partai yang kau bilang sok suci karena bawa – bawa agama itu, silahkan saja menutup dirimu dari segala produk politik ini, silahkan saja merasa muak pada wakil rakyat yang kau bilang pengkhianat, silahkan saja menjauhi demokrasi – politik yang memang bukan produk agama kita. Silahkan sahabatku, silahkan saja! Kecuali engkau bersedia berfikir ulang terkait beberapa hal berikut yang ingin saya ceritakan kepadamu…

Sahabatku,
Pernahkah engkau mendengar curahan hati ibu rumah tangga yang tiap hari mengeluh karena harga bahan pokok tak teratur dan melambung semaunya? Atau bahkan cerita dari ibumu atau saudara perempuanmu, pernah? Setiap pagi saat menghidangkan sarapan mereka akan mengeluh, membicarakan mahalnya kebutuhan pokok sehari – hari. Siapkah engkau mendengarkan hal itu setiap hari? Kamu fikir siapa yang mengendalikan itu semua kalau bukan pemerintah? Jika memang engkau tidak siap dengan semua itu, mari manfaatkan hak demokrasi kita 

Sahabatku,
Pernahkah engkau mendengar curahan hati para petani yang menjadi tulang punggung keluarga mengumpat tentang harga pupuk yang tak sebanding dengan hasil panen sawahnya? Atau bahkan cerita dari ayahmu sendiri yang merasa kesulitan mencari nafkah karena gaji di tempatnya bekerja tidak sesuai dengan jerih payahnya, pernah mendengarnya? Kamu fikir siapa yang mengendalikan itu semua kalau bukan pemerintah? Jika engkau tidak rela membiarkan mereka berkeluh kesah setiap pulang dan pergi bekerja setiap harinya, mari pergunakan hak pilih kita 

Sahabatku,
Siapa yang akan mengatur lokalisasi dan minuman keras yang ada dimana – mana itu? Siapa yang akan mengawal segala perundang - undangan dan tata hukum kenegaraan? Apakah engkau akan membiarkan kalau nantinya orang – orang jahat itu mengatur hajat hidup orang banyak semaunya? Termasuk hajat hidup kita, hajat hidup keluarga kita, hajat hidup anak keturunan kita nantinya. Apakah engkau rela jika nantinya perlahan – lahan negeri ini menjadi tak layak untuk dihuni lagi? Ayo sahabatku, berikanlah satu suaramu, ada agenda bangsa yang mendesak di Pemilu Presiden Tanggal Sembilan Juli nanti. Agenda menyelamatkan Indonesia.

Sahabatku,
Mari membangun Indonesia dari serpihan asa dan cita yang berserakan ini. Dengan cinta, kerja, dan harmoni dalam bingkai merah putih. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib berpesan:
"Kezhaliman akan terus ada, bukan karena banyaknya orang-orang jahat, tapi karena diamnya orang baik"
Wahai sahabatku yang baik, hendak kemana engkau titipkan negeri ini?
Senayan, provinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan, bahkan keluargamu. Semuanya akan engkau titipkan kepada siapa? Kepada Allah semata? Ya jelas memang demikian, hanya kepada Allah dan kepada syariat islam kita hendaknya bergantung, tapi kan ya ada sarananya. Dan sejauh ini yang paling kecil kerusakannya adalah dengan berpartisipasi pada pesta demokrasi ini, kita gunakan hak pilih kita untuk memilih orang baik. Setelahnya, Allah yang ngatur, kita hanya perlu menjemput dan memperjuangkan sarana itu.

Sahabatku,
Mari memutar ulang ingatan sederhana kita. Tentang ibu – ibu rumah tangga yang setiap pagi harus berurusan dengan sembako yang tak teratur harga dan persediaannya. Atau tentang petani yang dipermainkan pasar untuk harga pupuk dan hasil panennya. Serta tentang para pekerja yang merasa kurang dibela haknya oleh pemerintah. Hendak bagaimana kita menghibur mereka? Sudahkan cukup menghibur mereka dengan barisan ayat suci Al - Qur'an dan lembaran Shahih Bukhari – Muslim? Saya kira belum, sahabatku! Mereka butuh implementasi dan produk nyata dari hukum dan syariat Islam tersebut. Ayolah berpartisipasi untuk menempatkan orang – orang baik agar memimpin negeri ini. Ayo perjuangkan orang baik agar menjadi orang nomer satu di negeri ini yang semoga lewat dia nantinya Allah menurunkan kebarokahan pada negeri yang kita cintai ini. Kecuali jika memang engkau sudah putus asa dan tak peduli lagi dengan masa depan anak – anak kita dan negeri ini, Ya sudah aku menyerah. SIlahkan Golput saja!

You Might Also Like

0 komentar