Orang-orang Tercinta
Rasulullah pernah bersabda,"Setiap nabi punya peninggalan. Dan kaum Anshar adalah peninggalanku. Orang-orang lain makin banyak, sedang kaum Anshar sedikit. Terimalah yang baik dari mereka, dan maafkanlah mereka." Saat Rasulullah keluar di saat sakitnya yang cukup keras, kaum Anshar menyongsong beliau. Rasulullah bersabda,"Demi Tuhan yang jiwaku di tangan-Nya, aku sungguh mencintai kalian. Kaum Anshar telah menunaikan kewajiban mereka. Tinggal kalian. Maka, baikilah orang yang baik dari mereka dan maafkanlah yang bersalah dari mereka."
Suatu ketika, Ummu Fadhl binti al Harits mengunjungi beliau dan menangis. Rasulullah bertanya sebabnya dan Ummu Fadhl menjawab,"Kami mencemaskan engkau. Kami pun tidak tahu apa yang diperbuat orang terhadap kami setelah engkau meninggal." Rasulullah menjawab,"Kalian adalah orang-orang yang dianggap lemah setelahku."
Mereka yang tulus menolong, ada kalanya harus tersisih oleh mereka-mereka yang datang kemudian. Mereka yang tulus berjuang, tak jarang harus rela untuk dipinggirkan oleh mereka-mereka yang datang ketika pesta tepuk tangan sudah dilangsungkan. Tetapi, perjuangan harus tetap berjalan, dan kebenaran tak boleh berhenti diperjuangkan.
Kita tak berdaya kerap kali bukan karena hilangnya kekuatan, melainkan karena kita tak tahu menghargai ketulusan. Mereka yang dengan tulus menemani kita berjuang, mendo'akan dari kejauhan, menyediakan tangannya untuk memupus letih dan kesedihan kita, terkadang kita lupakan justru di saat kita hampir menuai keberhasilan. Kita teperdaya oleh tepuk tangan yang datang dengan bergemuruh dan bergelombang sehingga kita menyangka di sanalah terletak kekuatan. Kita larut di dalamnya sehingga meninggalkan sahabat-sahabat yang ikhlas hatinya mengawal perjuangan kita. Kita tak lagi menyukai kehadirannya karena mereka memberi nasihat di saat orang lain memberikan tepuk tangan.
Kita baru tersadar ketika mereka tak menyambut seruan kita, sebab mereka memang hanyalah orang-orang yang sedang menikmati tontonan. Tetapi di saat tersadar, tak setiap sahabat dapat kita rengkuh kembali untuk berjuang. Bukan karena hilangnya kesetiaan.... Bukan.
Dirangkum dari tulisan Ustadz Fauzil Adhim:
[Dari Broadcast di WhatsApp]
Suatu ketika, Ummu Fadhl binti al Harits mengunjungi beliau dan menangis. Rasulullah bertanya sebabnya dan Ummu Fadhl menjawab,"Kami mencemaskan engkau. Kami pun tidak tahu apa yang diperbuat orang terhadap kami setelah engkau meninggal." Rasulullah menjawab,"Kalian adalah orang-orang yang dianggap lemah setelahku."
Mereka yang tulus menolong, ada kalanya harus tersisih oleh mereka-mereka yang datang kemudian. Mereka yang tulus berjuang, tak jarang harus rela untuk dipinggirkan oleh mereka-mereka yang datang ketika pesta tepuk tangan sudah dilangsungkan. Tetapi, perjuangan harus tetap berjalan, dan kebenaran tak boleh berhenti diperjuangkan.
Kita tak berdaya kerap kali bukan karena hilangnya kekuatan, melainkan karena kita tak tahu menghargai ketulusan. Mereka yang dengan tulus menemani kita berjuang, mendo'akan dari kejauhan, menyediakan tangannya untuk memupus letih dan kesedihan kita, terkadang kita lupakan justru di saat kita hampir menuai keberhasilan. Kita teperdaya oleh tepuk tangan yang datang dengan bergemuruh dan bergelombang sehingga kita menyangka di sanalah terletak kekuatan. Kita larut di dalamnya sehingga meninggalkan sahabat-sahabat yang ikhlas hatinya mengawal perjuangan kita. Kita tak lagi menyukai kehadirannya karena mereka memberi nasihat di saat orang lain memberikan tepuk tangan.
Kita baru tersadar ketika mereka tak menyambut seruan kita, sebab mereka memang hanyalah orang-orang yang sedang menikmati tontonan. Tetapi di saat tersadar, tak setiap sahabat dapat kita rengkuh kembali untuk berjuang. Bukan karena hilangnya kesetiaan.... Bukan.
Dirangkum dari tulisan Ustadz Fauzil Adhim:
[Dari Broadcast di WhatsApp]


0 komentar