Merawat Cinta, Mengelola Rasa
Rasa yang terpolarisasi menjadi energi, ia menghentakmu saat termenung sendiri. Apakah ini cinta? Iya barangkali.
Adalah Ustazah Asri Widiarti, Salah seorang pengajar Asrama Mahasiswa Asma Amanina. Suatu pagi berbicara tentang rasa, bahwa jatuh cinta adalah rejeki.
Kemudian saya merenungi. Iya benar, Jatuh cinta memang fitrah yang Allah beri. Manusia memang cenderung untuk mencintai, dan dicintai. Bukankah memang hanya Dia yang maha kuasa membolak – balikan hati? Maka tak ada yang salah tentang rasa ini. Tak ada yang salah saat harus terjatuh untuk mencintai. Akan menjadi salah, saat tidak tepat menyikapi. Apa yang kita lakukan setelah jatuh cinta, itu yang bisa dihakimi. Jatuh cinta itu seperti belati. Bisa melukai, tapi bisa juga melindungi, bisa melemahkan bisa juga menguatkan. Tergantung bagaimana kamu menggunakan setelah memilikinya.
“Penyikapan kita setelah memiliki rasa, itu yang akan dihakimi. Itu yang akan dihisab oleh Illahi Rabbi.” Ustazah Asri Widiarti melanjutkan tausiyahnya.
Ya, Benar adanya. Biarkan saja rasa cinta itu tumbuh mengharap, karena ia tidak kena hisab. Sedangkan apa yang kita lakukan secara dzohiriyah, itu yang akan dihisab. Maka kita yang memang harus bijak. Apakah ia akan membawa kita menjauh dariNya, atau justru semakin taat kepadaNya.
Maka, mari mendekap hati. Menikmati rasa yang sedang merambah ke sanubari. Ia butuh perawatan sejak dini. Rasa yang mengajak kepada nikmat perlu untuk disyukuri, secara tidak berlebihan. Tempatkan ia di satu sudut kamar di ruang hati, tepat di samping engkau menempatkan Illahi Rabbi. Dia yang telah menitipkan rasa ini, maka serahkan kepadaNya lagi. Agar cinta menjadi jalan ketaatan, bukan membuka pintu kemaksiyatan. Cara kita menamai rasa yang tumbuh di hati sangat menentukan tujuan - tujuan yang hendak di capai dikemudian hari. Termasuk langkah - langkah untuk mewujudkannya.
Saya sendiri menyebutnya anugerah, dan juga rejeki. Karena ia datang, pada momentum yang tepat yang telah ditentukan oleh Allah, Dzat Agung penguasa hati. Mari simak saran dari Ustazah Asri Widiarti,
“Makanya jika merasa belum siap atas konsekuensi mencintai, ya balikin saja rasa itu ke Allah lagi. Jika kamu perempuan dan merasa sudah siap, ya diberikan pada yang nantinya berhak. Jika kamu laki – laki dan merasa sudah siap, ya disampaikn pada yang menjadikanmu jatuh hati.”
Bagaimana kalau ternyata nantinya, orang yang pernah kita cintai di masa lalu bukan untuk kita di masa yang akan datang? Ya memangnya kenapa? Toh, sebelumnya juga tidak pernah memliki. Biasa saja, dari tiada, kemudian ada, hingga menjadi tiada lagi. Adakah takdir Allah yang tidak baik untuk hambaNya di dunia ini? Kalau bukan dengannya, akan dihadirkan dia yang lain yang jauh lebih mendekatkan kepada kebaikan. Yakinilah!
Sekarang tak ada waktu bagimu lagi, diam, membayang, apalagi menutup diri. Engkau harus segera berdiri, Menatap cermin dan sesekali meraba hati. Pantaskah engkau berharap? Atau bahkan menanti, ataukah pastas untuk sekedar bermimpi? Mungkinkah kau diharap? Atau bahkan dinanti. Sedang kau tahu, semuanya selalu saja tepat posisi.
Engkau hanya perlu merawat cinta, yang perlahan bertunas dalam jiwa.
Yak, Benar... Di rawat saja. Dan kau kan menemui saat - saat berbahagia.
Terpisah dalam jarak, belum tentu bertemu dalam do'a, Biarkan Allah yang ngatur segalanya. Cukupkan untuk sama - sama mempersiapkan diri. Untuk saling pantas memiliki dan dimiliki. Meskipun ternyata dia yang lain yang terbaik untukmu. Allah jauh lebih tahu siapa yang seharusnya membersamaimu.
Ditulis sebagai mozaik yang berantakan, untuk menjadi nasehat bagi diri yang seringkali khilaf. Tapi, belum tentu berarti sedang mengalami.


1 komentar
Akh ale.. .
BalasHapusMendengar cerita saya dimana?
Ini kan cerita di asma..