Surat Cinta Untukmu, Dinda
Assalamu'alaykum.
Bismillah,
Ba'da dhuha, kemudian merampungkan hutang tilawah target satu juz hari kemarin, dan menyelesaikan al kahfi.
Kepadamu dinda, kuberanikan menulis surat ini.
Di hari nya hari, Hari Jumat yang penuh keberkahan,
Akupun mengharapkan keberkahan dari rangkaian kata tak beraturan yang akan engkau baca lewat surat ini. Surat istimewa untuk mu.
Dinda,
Ada hal sederhana yang ingin aku ceritakan kepadamu...
Yak sangat sederhana sekali,
Sepertinya aku sedang jatuh cinta, dan itu kepadamu.
Dinda,
Entah sejak kapan perasaan ini muncul,
semuanya mengalir sederas hujan yang mengguyur di Bulan Januari.
Terlebih sebulan terakhir hatiku membuncah, memendam rasa yang kusimpan sekian lama.
Rasanya manis, dan aku ingin membaginya denganmu...
Dinda,
Menurut hemat saya,
banyak yang tidak sehat antara kita berdua selama ini, entah bagaimana menurutmu.
Perasaan merasa nyaman ini, perasaan merasa aman ini, perasaan merasa bangga dan sebagainya. Kesemuanya saya simpulkan sebagai sebuah rasa sederhana. Cinta.
Ya benar, Dinda...
Rasa cinta inilah yang sepertinya menggerakan semua syaraf untuk mencipta rasa indah.
Kesemuanya itu terjadi saat bersamamu.
Dinda,
Ingin benar rasanya segera bisa memperhatikanmu sepenuhnya tanpa rasa canggung,
Melindungimu tanpa rasa takut,
Merawatmu sepenuhnya,
Dan bersamamu tanpa hijab, membersamai tumbuh dan berkembangnya anak - anak kita.
Kesemuanya secara halal dan berpahala. Ingin sekali, dan segera!
Dinda,
Aku ingin mempertanggungjawabkan semua yang telah aku tanam,
Melamarmu segera atau mendiamkan rasa ini sampai semuanya kembali netral.
Seolah tidak pernah terjadi sesuatu apa.
Dan akupun siap atas semua konsekuensi dari masing - masing pilihan tersebut.
Dinda,
Bersamaan dengan surat ini, saya ingin mengakhiri "kemesraan" semu yang selama ini terjalin
Setelahnya kita akan menempuh satu dari dua pilihan, Pelaminan atau Menetralkan.
Kalau masing - masing kita siap, maka pelaminanlah pilihan paling bijak,
Akan tetapi sebaliknya, kita harus siap untuk kembali seperti biasa.
Mungkin sendiri dulu, menyelesaikan rasa yang pernah ada, menetralkannya.
Hingga kita layak untuk saling bicara dan bertutur sapa, kembali. Tanpa ada rasa.
Dinda,
Maafkan saya.
Shadaqallahul adzim, Kepada Allah kita syukuri segala nikmat, terlebih bagi saya.
Dentuman rasa yang tak terkira indahnya ini. Cinta.
'Alaykumsalam.
Yogyakarta, 24 Januari 2014
Tepat Sebelum Khotbah Jumat
Yang lemah tanpa daya,
Kanda.


0 komentar