73599341

Ale Ikhwan Jumali

Berfikir dan berkarya besar. Sesederhana rinai embun yang sabar menunggu mentari pagi.

Latest Posts

Surat Balasan dari Dinda

By 01.52 ,











Assalamu'alaykum,

Pagi ini kuberanikan membalas surat yang kanda kirim pada 24 Januari 2014 kemarin. Hatiku menggelayut terbang, kemudian meleleh di pembaringan.
Saya baca berulang - ulang, dan setiap kali pengulangannya masih saja menimbulkan gejala psikis yag sama.

Berhari - hari saya berfikir dan merenungkan sikap, dan hari ini kupersiapkan segalanya untuk menggerakkan jemari yang lemah ini berucap kata. Hati menuntun, dan mataku pasrah terhadap apa yang akan dilantunkannya lewat tulisan ini.

Saya awali hari ini dengan sholat shubuh berjama'ah, al - ma'tsurat, dhuha penuh delapan rakaat, kemudian menyelesaikan tilawah setengah juz. Hari ini, hari lahirnya nabi agung kita, Muhammad saw. Kupersiapkan semuanya, dan tentunya ada kanda dalam do'a panjangku.
Dengannya saya memohon Allah menggerakkan agar hati ini menuntun kemana jemari akan memilih huruf dan paduan kata yang paling mendekatkan kita kepadaNya.

Kanda,
Sepertinya ada beberapa hal yang sama kita rasa.
Entah sejak kapan dan siapa yang memulainya, saya kira sudah tidak penting lagi untuk kita bahas hari ini.
Yang lebih penting adalah kemana semua ini akan kita muarakan.

Kanda,
Perempuan itu hatinya sangat lembut, dan mudah meleleh. Tapi ingat! di satu sisi mereka adalah mahkluk paling kuat yang Allah ciptakan. Dan pagi ini saya ingin menjadi mahkluk yang paling kuat tersebut.

Beberapa waktu terakhir, saya begitu lemahnya. Menikmati semua proses dan "silaturahim" yang terbangun diantara kita. Saya begitu mudahnya meleleh dan terbang oleh perhatian - perhatian kecilmu, oleh sapaan lugasmu, oleh perbincangan kita yang begitu sederhana namun meneduhkan hati. Saya sangat menikmati itu.
Meski kanda, mohon maaf sebelumnya...
Tak ada sedikitpun rasa yang kemudian kamu sebut cinta itu muncul dalam hatiku....
Justru rasa itu muncul beberapa hari terakhir ini,
Yak, tepat setelah saya membaca suratmu.

Kanda,
Tidak banyak yang ingin saya sampaikan melalui surat ini.
Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya juga mencintaimu dan ingin membangun impian syurga bersamamu. Tidak! lebih tepatnya mungkin tidak untuk saat ini. Mati, jodoh, rejeki siapa yang tahu.
Lebih baik kita menetralkan dulu semuanya, menjernihkan hati dan membaca niat. Mintalah fatwa kedalam hati:
"Kemana sebenarnya semua ini dulu kita niatkan?

Kanda,
Kita kembalikan dulu semunya kepadaNya, Rejeki ini datang begitu tiba - tiba. dan jujur saya belum siap untuk memeliharanya.
Kita netralkan dalam diam, meminta petunjuk dan hidayahNya. Minta dikuatkan dalam istikharah dan sholat malam kita. Rasa yang saling terpaut ini bertemu pada waktu dan keadaan yang belum sama - sama matang.
Apakah pelaminan ataupun penetralan, Saya tak mau keputusan yang diambil hanya bersebab nafsu dn gejolak sesaat.
Kemudian nantinya setelah semuanya matang, salah satu dari kita wajib untuk bersegera mendahului peran, mengajak memilih satu diantara dua pilihan: Pelaminan atau Penetralan.

Kanda,
Maafkan saya.
Saya hanya ingin dihalalkan dengan cara yang terbaik.
Tidak masalah apakah dia itu kanda atau yang lain.

Sekian,
Wassalamu'alaykum.

Yogyakarta, 27 Januari 2014
Yang ingin kuat dan menguatkan,
Dinda.

You Might Also Like

0 komentar