Ma'ruf, Khayr, dan Strategi Dakwah
💝 Sebagaimana Iman dan Islam, maka begitulah Ma'ruf dan Khayr. Ia berbeda makna ketika tersebutkan terpisah dalam satu kalimat, namun saling mewakili ketika sendiri. Untuk makna secara terpisah adalah,
Iman, itu amalan hati. Sesuatu yang bersifat keyakinan. Berawal dari hati. Sedangkan Islam, itu amalan dzahiri. Bersifat amaly yang diwujudkan.
💝 Maka, ketika tunggal berdiri, Iman mewakili makna iman itu sendiri serta mewakili makna islam juga, begitu sebaliknya. Namun jika disebut kan bersama, iman dan islam membawa makna nya masing masing. Kalau dalam bahasanya Ust Salim,
"Kalau pisah ngumpul, kalau ngumpul pisah". Berikut sekilas gambarannya.
💝 Iman dan Islam
==================
➡ Muslim dan Mukmin
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min…”
(QS. Al Ahzab: 35)
[Muslim dan Mukmin, disebutkan secara bersamaan dalam satu kalimat, maka keduanya memiliki makna yang berbeda.]
➡ Mukmin Saja
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka.
(QS. Al-Anfal: 2)
[Hanya disebutkan kata mukmin dalam satu kalimat, maka mukmin tersebut mewakili dirinya sendiri, juga mewakili muslim]
➡ Muslim Saja
“Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri (Muslim)”
(QS. Adz Dzariyat: 36)
[Hanya disebutkan kata muslim dalam satu kalimat, maka ia nya juga mewakili dirinya sendiri (muslim), serta mewakili mukmin]
Ada gambaran? Sipks, lanjut...
💝 Maka begitulah pula dengan Ma'ruf dan Khayr. Keduanya memiliki makna yang berbeda ketika berkumpul di satu kalimat, dan saling mewakili ketika sendirian tersebutkan di kalimat tunggal.
💝 Untuk makna secara terpisah.
➡ Ma'ruf, dia adalah kebaikan yang bersifat universal. Bersifat umum dn bisa dipahami semua orang, meskipun tidak bawa syariat dan dalil. Kebaikan yang disepakati banyak orang. Menabung, menolong orang, membantu orang tua, menyantuni orang miskin, dan sejenisnya. Ini Ma'ruf, baik dan semua orang faham bahwa ini perbuatan baik.
➡ Khayr, dia adalah kebaikan yang berasal dari Allah, kebaikan dari sudut pandang nya Allah. Tidak semua orang faham dan tidak semua orang menerima nya sebagai sebuah kebaikan. Sholat, beragama Islam, Haji, aturan pembagian waris, nasab pernikahan, dan sejenisnya. Ini kebaikan dari sudut pandang Allah. Ini Khayr, baik tapi tidak semua orang terima dengan aturan kebaikan ini.
💝 Akan tetapi jika disebutkan sendiri, mereka saling melengkapi, dan jika tersebutkan bersamaan dalam satu kalimat, maka membawa makna nya masing masing.
💝 Ma'ruf dan Khayr
==================
➡ Ma'ruf saja
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah."
(Ali Imran: 110)
[Maka, ini bermakna menyuruh kepada yang Ma'ruf (kebaikan universal) dan juga mengajak kepada yang Khayr (Kebaikan Rabbaniyah)
➡ Khayr Saja
"Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan."
(Al Baqarah: 148)
[Kalimat ini, menggunakan kata Khayr. Maka berlombalah dalam melakukan yang Khayr, dan juga berlomba dalam melakukan yang Ma'ruf.]
➡ Ma'ruf dan Khayr
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan (khayr), menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al Imraan: 104)
[Keduanya disebutkan secara terpisah. Maka membawa maknanya masing-masing]
💝 Tentang Ma'ruf dan Khayr, Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengajarkan kita kaedahnya,
“Jadilah engkau imam dalam hal yang Ma'ruf, agar engkau bisa menjadi imam dalam perkara yang Khayr”
Maka dalam Ali Imran: 104 tersebut, Khayr itu di serukan, karena kita sadar, tidak semua orang faham urgensi masuk islam, urgensi mentoring, urgensi pembinaan. Sedangkan Ma'ruf itu di suruh, karena kita faham, pelayanan itu baik, menolong itu baik, dan semua orang harus melakukan itu.
💝 Dakwah itu amaly, tidak hanya berputaran di masjid, tempat ibadah, dan ritual ibadah. Bahwa dakwah memulai dari aqidah dan taudih, Iya! Tapi ada yang mengiringi itu. Adanya amal sosial yang menjadikan dakwah ini menjadi utama.
💝 Dakwah itu bukan sekedar menyampaikan ilmu dan syariat, tapi menerjemahkan manfaat kepada masyarakat. Maka, penting bagi kita untuk menjadi yang terdepan dalam hal yang Ma'ruf dulu, terdepan dalam melakukan kebaikan yang bersifat universal dulu, memberikan pelayanan sosial, santunan, memberi berbuka, dan lain sebagainya, baru kemudian kita bisa mengajak mereka menuju kepada ya g Khayr, menuju kepada kebaikan dalam perspektif Allah, menuju kepada Islam, Tauhid Ilallah. Itulah kenapa, Rasullah pun, beliau sudah mendapatkan gelar Al Amin dulu, sebelum mendapatkan amanah menyampaikan risalah. Yang demikian saja masih banyak penolakan. Bagaimanakah dengan kita? Belum banyak melakukan hal Ma'ruf, tapi sebegitu tergesanya menyeru yang Khayr. Wajar saja mental dakwahnya.
💝 Kebertahapan
Kita sadar, masyarakat masih banyak yang jauh dari tuntutan, jauh dari syariat. Kita harus sabar menghadapi nya. Dalam hal ini, mari perhatikan ayat berikut,
“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”
[Qs. al-A’roof: 199]
Dari kata "Jadilah Pemaaf" pada ayat tersebut, oleh Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, di terjemahan menjadi lima Fiqih dakwah sebagai berikut,
- Terimalah kaummu apa adanya
- Maklumilah kekurangan – kekurangan mereka
- Maafkan kesalahan kesalahan mereka
- Jangan bebani mereka melebihi apa yang mereka sanggup
- Jangan berbicara kepada mereka apa yang tidak mereka mengerti
💝 Maka bersabarlah dalam dakwah. Allah lihat proses nya. Hasil sudah bukan urusan kita, itu masuk ke domain nya Allah. Semoga Allah menjaga kita.
==================
Dihimpun dari berbagai sumber oleh hamba yang faqir ilmu
@Aleikhwan01
Iman, itu amalan hati. Sesuatu yang bersifat keyakinan. Berawal dari hati. Sedangkan Islam, itu amalan dzahiri. Bersifat amaly yang diwujudkan.
💝 Maka, ketika tunggal berdiri, Iman mewakili makna iman itu sendiri serta mewakili makna islam juga, begitu sebaliknya. Namun jika disebut kan bersama, iman dan islam membawa makna nya masing masing. Kalau dalam bahasanya Ust Salim,
"Kalau pisah ngumpul, kalau ngumpul pisah". Berikut sekilas gambarannya.
💝 Iman dan Islam
==================
➡ Muslim dan Mukmin
"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu'min…”
(QS. Al Ahzab: 35)
[Muslim dan Mukmin, disebutkan secara bersamaan dalam satu kalimat, maka keduanya memiliki makna yang berbeda.]
➡ Mukmin Saja
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka.
(QS. Al-Anfal: 2)
[Hanya disebutkan kata mukmin dalam satu kalimat, maka mukmin tersebut mewakili dirinya sendiri, juga mewakili muslim]
➡ Muslim Saja
“Dan Kami tidak mendapati di negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri (Muslim)”
(QS. Adz Dzariyat: 36)
[Hanya disebutkan kata muslim dalam satu kalimat, maka ia nya juga mewakili dirinya sendiri (muslim), serta mewakili mukmin]
Ada gambaran? Sipks, lanjut...
💝 Maka begitulah pula dengan Ma'ruf dan Khayr. Keduanya memiliki makna yang berbeda ketika berkumpul di satu kalimat, dan saling mewakili ketika sendirian tersebutkan di kalimat tunggal.
💝 Untuk makna secara terpisah.
➡ Ma'ruf, dia adalah kebaikan yang bersifat universal. Bersifat umum dn bisa dipahami semua orang, meskipun tidak bawa syariat dan dalil. Kebaikan yang disepakati banyak orang. Menabung, menolong orang, membantu orang tua, menyantuni orang miskin, dan sejenisnya. Ini Ma'ruf, baik dan semua orang faham bahwa ini perbuatan baik.
➡ Khayr, dia adalah kebaikan yang berasal dari Allah, kebaikan dari sudut pandang nya Allah. Tidak semua orang faham dan tidak semua orang menerima nya sebagai sebuah kebaikan. Sholat, beragama Islam, Haji, aturan pembagian waris, nasab pernikahan, dan sejenisnya. Ini kebaikan dari sudut pandang Allah. Ini Khayr, baik tapi tidak semua orang terima dengan aturan kebaikan ini.
💝 Akan tetapi jika disebutkan sendiri, mereka saling melengkapi, dan jika tersebutkan bersamaan dalam satu kalimat, maka membawa makna nya masing masing.
💝 Ma'ruf dan Khayr
==================
➡ Ma'ruf saja
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah."
(Ali Imran: 110)
[Maka, ini bermakna menyuruh kepada yang Ma'ruf (kebaikan universal) dan juga mengajak kepada yang Khayr (Kebaikan Rabbaniyah)
➡ Khayr Saja
"Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan."
(Al Baqarah: 148)
[Kalimat ini, menggunakan kata Khayr. Maka berlombalah dalam melakukan yang Khayr, dan juga berlomba dalam melakukan yang Ma'ruf.]
➡ Ma'ruf dan Khayr
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan (khayr), menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al Imraan: 104)
[Keduanya disebutkan secara terpisah. Maka membawa maknanya masing-masing]
💝 Tentang Ma'ruf dan Khayr, Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengajarkan kita kaedahnya,
“Jadilah engkau imam dalam hal yang Ma'ruf, agar engkau bisa menjadi imam dalam perkara yang Khayr”
Maka dalam Ali Imran: 104 tersebut, Khayr itu di serukan, karena kita sadar, tidak semua orang faham urgensi masuk islam, urgensi mentoring, urgensi pembinaan. Sedangkan Ma'ruf itu di suruh, karena kita faham, pelayanan itu baik, menolong itu baik, dan semua orang harus melakukan itu.
💝 Dakwah itu amaly, tidak hanya berputaran di masjid, tempat ibadah, dan ritual ibadah. Bahwa dakwah memulai dari aqidah dan taudih, Iya! Tapi ada yang mengiringi itu. Adanya amal sosial yang menjadikan dakwah ini menjadi utama.
💝 Dakwah itu bukan sekedar menyampaikan ilmu dan syariat, tapi menerjemahkan manfaat kepada masyarakat. Maka, penting bagi kita untuk menjadi yang terdepan dalam hal yang Ma'ruf dulu, terdepan dalam melakukan kebaikan yang bersifat universal dulu, memberikan pelayanan sosial, santunan, memberi berbuka, dan lain sebagainya, baru kemudian kita bisa mengajak mereka menuju kepada ya g Khayr, menuju kepada kebaikan dalam perspektif Allah, menuju kepada Islam, Tauhid Ilallah. Itulah kenapa, Rasullah pun, beliau sudah mendapatkan gelar Al Amin dulu, sebelum mendapatkan amanah menyampaikan risalah. Yang demikian saja masih banyak penolakan. Bagaimanakah dengan kita? Belum banyak melakukan hal Ma'ruf, tapi sebegitu tergesanya menyeru yang Khayr. Wajar saja mental dakwahnya.
💝 Kebertahapan
Kita sadar, masyarakat masih banyak yang jauh dari tuntutan, jauh dari syariat. Kita harus sabar menghadapi nya. Dalam hal ini, mari perhatikan ayat berikut,
“Jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”
[Qs. al-A’roof: 199]
Dari kata "Jadilah Pemaaf" pada ayat tersebut, oleh Al-’Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, di terjemahan menjadi lima Fiqih dakwah sebagai berikut,
- Terimalah kaummu apa adanya
- Maklumilah kekurangan – kekurangan mereka
- Maafkan kesalahan kesalahan mereka
- Jangan bebani mereka melebihi apa yang mereka sanggup
- Jangan berbicara kepada mereka apa yang tidak mereka mengerti
💝 Maka bersabarlah dalam dakwah. Allah lihat proses nya. Hasil sudah bukan urusan kita, itu masuk ke domain nya Allah. Semoga Allah menjaga kita.
==================
Dihimpun dari berbagai sumber oleh hamba yang faqir ilmu
@Aleikhwan01


0 komentar