Tetaplah, Saling Berwasiat Bersama Jamaah
Kamu ingat pepatah arab itu?
"al insanu mahalul khoto' wa nisyan...
~manusia itu tempat salah dan lupa..."
Ya, begitu banyak salah dan lupa daripada ingat nya. Bahkan tentang ikrar janji itu, kita pun lupa sampai Allah mengkhabarkan dalam firmanNya,
==================
... “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Tanya Allah...
Kamu ingat jawaban apa yang kita ucapkan?
“Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”.
Ya Rabbi, ampunilah kami. Atas persaksian yang tidak kami ingat. Kami mempersaksikan Engkau Dzat yang Esa, tapi kami terperangkap dzat lain yang sebegini nya menyilaukan mata. Kami pun, mempersaksikan Engkau sebagai sesembahan yang tiada dua, tapi betapa lalai nya kami pada panggilan sholat yang terkumandang oleh Bilal Mu yang merdu suaranya. Betapa seringkali, kami menunda nunda atas perintah ibadah yang seharusnya kami lakukan dengan segera.
Ya Rabbi, Jangan sampai nantinya di hari kiamat kami mengatakan kepada-Mu,
“Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)”
Ya Rabbi, ampunilah kami...
[Di adaptasi dari QS. Al A’raaf : 172]
==================
Dengan segala keterbatasan ingatan kita, dengan segala kelemahan kita, dengan segala kefakiran ilmu dan amal kita, itulah mengapa senantiasa berjamaah menjadi pilihan utama. Kita membutuhkan cermin, pantulan atas pribadi yang seringkali alpha. Dan ketahuilah, cermin itu bisa kita dapatkan dari saudara seiman dimanapun berada.
Maka sumpah itu, memilih satu makhluk bernama waktu. Bahwa semua manusia berada dalam kerugian. Semuanya. Kecuali salah satu dari golongan yang empat, adalah mereka yang saling berwasiat dalam kebenaran, dan saling berwasiat dalam kesabaran. Kita kah termasuk dalam golongan yang tidak merugi itu?
“Seandainya Allah tidak menurunkan surat kepada makhluk-Nya kecuali hanya surat Al ‘Ashr,...
Imam Syafi’i rahimahullahu membuat pengandaian,
.... niscaya sudah mencukupi mereka” Pungkas beliau setelah mentadaburi surat itu.
Bukan, bukan berarti manusia tidak butuh lagi syariat yang lain, ataupun perintah ibadah yang lain. Bukan. Semata untuk menunjukkan ketakjuban jalan yang Allah berikan. Betapa untuk tetap senantiasa bersama jama'ah, saling berwasiat dalam ketakwaan, menjadi salah satu jalan kita untuk keluar dari golongan manusia yang berada dalam kerugian.
Ya, sekali lagi.
"al insanu mahalul khoto' wa nisyan...
~manusia itu tempat salah dan lupa..."
Ya, yang salah di luruskan, yang lupa diingatkan. Tentunya dengan cara yang ahsan. Lebih utama lagi mengingatkan saat sendirian. Tatap matanya, ajak bicara,
"Akhi, ana ukhibukum fillah. Bolehkah saya menyampaikan satu wasiat taqwa kepada antum?"
==================
Dengan segala kefaqiran,
@Aleikhwan01
"al insanu mahalul khoto' wa nisyan...
~manusia itu tempat salah dan lupa..."
Ya, begitu banyak salah dan lupa daripada ingat nya. Bahkan tentang ikrar janji itu, kita pun lupa sampai Allah mengkhabarkan dalam firmanNya,
==================
... “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Tanya Allah...
Kamu ingat jawaban apa yang kita ucapkan?
“Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”.
Ya Rabbi, ampunilah kami. Atas persaksian yang tidak kami ingat. Kami mempersaksikan Engkau Dzat yang Esa, tapi kami terperangkap dzat lain yang sebegini nya menyilaukan mata. Kami pun, mempersaksikan Engkau sebagai sesembahan yang tiada dua, tapi betapa lalai nya kami pada panggilan sholat yang terkumandang oleh Bilal Mu yang merdu suaranya. Betapa seringkali, kami menunda nunda atas perintah ibadah yang seharusnya kami lakukan dengan segera.
Ya Rabbi, Jangan sampai nantinya di hari kiamat kami mengatakan kepada-Mu,
“Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)”
Ya Rabbi, ampunilah kami...
[Di adaptasi dari QS. Al A’raaf : 172]
==================
Dengan segala keterbatasan ingatan kita, dengan segala kelemahan kita, dengan segala kefakiran ilmu dan amal kita, itulah mengapa senantiasa berjamaah menjadi pilihan utama. Kita membutuhkan cermin, pantulan atas pribadi yang seringkali alpha. Dan ketahuilah, cermin itu bisa kita dapatkan dari saudara seiman dimanapun berada.
Maka sumpah itu, memilih satu makhluk bernama waktu. Bahwa semua manusia berada dalam kerugian. Semuanya. Kecuali salah satu dari golongan yang empat, adalah mereka yang saling berwasiat dalam kebenaran, dan saling berwasiat dalam kesabaran. Kita kah termasuk dalam golongan yang tidak merugi itu?
“Seandainya Allah tidak menurunkan surat kepada makhluk-Nya kecuali hanya surat Al ‘Ashr,...
Imam Syafi’i rahimahullahu membuat pengandaian,
.... niscaya sudah mencukupi mereka” Pungkas beliau setelah mentadaburi surat itu.
Bukan, bukan berarti manusia tidak butuh lagi syariat yang lain, ataupun perintah ibadah yang lain. Bukan. Semata untuk menunjukkan ketakjuban jalan yang Allah berikan. Betapa untuk tetap senantiasa bersama jama'ah, saling berwasiat dalam ketakwaan, menjadi salah satu jalan kita untuk keluar dari golongan manusia yang berada dalam kerugian.
Ya, sekali lagi.
"al insanu mahalul khoto' wa nisyan...
~manusia itu tempat salah dan lupa..."
Ya, yang salah di luruskan, yang lupa diingatkan. Tentunya dengan cara yang ahsan. Lebih utama lagi mengingatkan saat sendirian. Tatap matanya, ajak bicara,
"Akhi, ana ukhibukum fillah. Bolehkah saya menyampaikan satu wasiat taqwa kepada antum?"
==================
Dengan segala kefaqiran,
@Aleikhwan01


0 komentar