Menggertak Ghiroh Dakwah
🍀 Adalah Musa,
Pemuda buronan di Negeri Mesir, pembunuh yang lari dari tanggung jawab.
🍀 Suatu siang terjadi perkelahian antara Samiri dari Bani Israil dengan Fatun dari Kaum Firaun. Merasa kaumnya (Samiri) dianiaya, Musa yang sedang membara jiwa mudanya pun bergejolak. Dia lontarkan pukulan dan tumbukan tangannya kepada Fatun. Fatun tak berdaya, seketika itu jatuh rebah ke tanah dan meninggal seketika. Musa muda pun gugup, melarikan diri menuju Kota Madyan. Yang kemudian bertemu Nabi Syuaib dan menikahi anaknya. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam Q.S. Al-Qashshas: 14-21.
🍀 Beberapa tahun kemudian, Musa diangkat menjadi nabi dan rasul untuk menyampaikan dakwah kepada Raja Firaun di Mesir.
⏩ Tapi tunggu dulu, Apa Mesir?
⏩ Bukankah Musa seorang buronan disana?
⏩ Bukankah Kaum Kafir mengenal Musa di Mesir sebagai seorang pembunuh?
⏩ Bagaimana nanti masyarakat mesir akan menerima dakwah yang Musa bawa?
🍀 Betapa beratnya Musa menerima amanah dakwah ini.Mantan pembunuh itupun melaksanakan amanah, berdakwah di tempat masa jahiliyahnya dulu. Tanpa canggung apalagi malu dan banyak alasan.Karena begitulah iman, membatalkan keraguan.
🌷 Adalah Nuh, Pembawa risalah dakwah yang panjang waktu nya namun sedikit pengikutnya.
Masa bhaktinya sebagai nabi dan rasul ratusan tahun lamanya, berdakwah siang dan malam selama hampir seabad kiranya. Mendakwahi masyarakat dengan gigih tak kenal letih. Sedang kepada anak istrinya saja dia tak mampu membukakan hati mereka untuk menerima ajaran yang ia bawa. Ia tak mampu menjadi jalan hidayah bagi keluarga terdekatnya.
===================
"Wahai Nuh? Bagaimana mungkin engkau mendakwahi kami, sedang keluargamu sendiri saja tidak menerima dakwahmu?"
===================
Celaan dari kaumnya yang menyayat sanubari, melemahkan azzam di hati.
🌷 Kemudian dakwah Nabi Nuh berhenti? Begitukah? TIdak sama sekali. Nabi Nuh tetap melanjutkan dakwahnya.
Karena begitulah iman, meneguhkan perjuangan.
🍃 Wahai manusia, Seru Al Imam Hasan Al - Bashri di suatu hari.
===================
" ... Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya.
===================
🍃 Said bin Zubair, sang alim menasehatkan kepada kita juga,
===================
"Seandainya seseorang tidak boleh memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran sehingga ia menjadi orang yang bersih dari semua dosa, maka tidak ada seorangpun yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran."
===================
🍃 Bahkan, Rasulullah yang agung nan mulia itupun bersabda,
===================
"Perintahkanlah yang ma'ruf meskipun kamu belum mengamalkannya, dan cegahlah kemungkaran meskipun kamu belum meninggalkan seluruhnya."
===================
🌟 Ikhwahfillah, menjadilah Generasi Rabbani,
===================
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (orang-orang yang sempurna ilmu dan ketakwaannya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya."
(Q.S. Ali Imran: 79)
🌟 Jika kita perhatikan, redaksi kalimat terakhirnya adalah urutan proses mengajarkan yang kemudian diikuti dengan proses mempelajarinya.
🌟 Jika memakai logika manusia dan ilmuan, maka yang diutamakan adalah proses belajar dulu baru kemudian mengajar. Muncul pertanyaan sederhana,
⏩ Mungkinkah Allah salah dalam membuat urutan redaksi kalimatnya?
⏩ Barangkali seharusnya "karena kamu selalu mempelajari Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mengajarkannya." Didahului aktifitas mempelajari kemudian di ikuti proses mengajarkan. Begitukah?
⏩ Ataukah kemudian, urutan kalimatnya benar tapi tanpa maksud tertentu?
⏩ Mungkinkah Allah sembarangan dalam membuat redaksi firman dalam Al Quran?
⛔ Tidak! Perintah Allah untuk menjadi Generasi Rabbani mengajarkan kita bahwa semangat yang harus dibangun adalah semangat mengajarkan, semangat beramal. Lantas bagaimana dengan ilmunya? Bagaimana belajarnya? Bukankah berdakwah butuh ilmu? Bukankah beramal butuh bekal?
💢 Yak, benar sekali! Amal membutuhkan ilmu. Tapi siapa yang bisa jamin kalau berilmu pasti beramal? Akan tetapi, dengan membangun semangat beramal, kita akan mempunyai tuntutan untuk memenuhi segala kualifikasi diri sebagai seorang dai, sebagai seorang penyeru.
💢 Dengan membangkitkan semangat beramal, maka seiring dengan sendirinya kita akan terbangkitkan semangat diri untuk belajar dan terus menuntut ilmu. Mencukupkan diri sembari jalan sebagai dai. Karena terkadang, jiwa memang membutuhkan gertakan untuk bangun menyambut seruan Tuhan. Butuh pemantik untuk bangkit.
💦 Teringat tausiyah Ust Adian Husaini, bahwa Nabi Ibrahim as tetap sukses sabagai nabi, meskipun kalah oleh raja zalim bernama Namrud. Sedangkan Iblis yang sukses menipu Adam di surga, Al Quran tidak menyebut iblis sebagai pemenang.
💦 Keberhasilan dakwah tergantung pula dari seberapa kuat kita berperang melawan hawa nafsu dalam diri, seberapa mampu kita menggertak jiwa dan sanubari, membangkitkan semangat amal dan kontribusi, dengan keimanan pada Illahi Rabbi. Yakin! Surga menanti.
🔥 Ya Ikhwahfillah, bakarlah lemak jahat yang menggerogoti ghirah jihad mu, gertaklah azzam muda mu, bangkitkanlah semangat dakwahmu. Serulah ummat menuju surga bersamamu.
===================
[01.06] [08/02/15]
Saat Hirosah di Mukhayam Pandu Keadilan, Bumi Perkemahan Waduk Sermo
Pemuda buronan di Negeri Mesir, pembunuh yang lari dari tanggung jawab.
🍀 Suatu siang terjadi perkelahian antara Samiri dari Bani Israil dengan Fatun dari Kaum Firaun. Merasa kaumnya (Samiri) dianiaya, Musa yang sedang membara jiwa mudanya pun bergejolak. Dia lontarkan pukulan dan tumbukan tangannya kepada Fatun. Fatun tak berdaya, seketika itu jatuh rebah ke tanah dan meninggal seketika. Musa muda pun gugup, melarikan diri menuju Kota Madyan. Yang kemudian bertemu Nabi Syuaib dan menikahi anaknya. Allah mengabadikan peristiwa ini dalam Q.S. Al-Qashshas: 14-21.
🍀 Beberapa tahun kemudian, Musa diangkat menjadi nabi dan rasul untuk menyampaikan dakwah kepada Raja Firaun di Mesir.
⏩ Tapi tunggu dulu, Apa Mesir?
⏩ Bukankah Musa seorang buronan disana?
⏩ Bukankah Kaum Kafir mengenal Musa di Mesir sebagai seorang pembunuh?
⏩ Bagaimana nanti masyarakat mesir akan menerima dakwah yang Musa bawa?
🍀 Betapa beratnya Musa menerima amanah dakwah ini.Mantan pembunuh itupun melaksanakan amanah, berdakwah di tempat masa jahiliyahnya dulu. Tanpa canggung apalagi malu dan banyak alasan.Karena begitulah iman, membatalkan keraguan.
🌷 Adalah Nuh, Pembawa risalah dakwah yang panjang waktu nya namun sedikit pengikutnya.
Masa bhaktinya sebagai nabi dan rasul ratusan tahun lamanya, berdakwah siang dan malam selama hampir seabad kiranya. Mendakwahi masyarakat dengan gigih tak kenal letih. Sedang kepada anak istrinya saja dia tak mampu membukakan hati mereka untuk menerima ajaran yang ia bawa. Ia tak mampu menjadi jalan hidayah bagi keluarga terdekatnya.
===================
"Wahai Nuh? Bagaimana mungkin engkau mendakwahi kami, sedang keluargamu sendiri saja tidak menerima dakwahmu?"
===================
Celaan dari kaumnya yang menyayat sanubari, melemahkan azzam di hati.
🌷 Kemudian dakwah Nabi Nuh berhenti? Begitukah? TIdak sama sekali. Nabi Nuh tetap melanjutkan dakwahnya.
Karena begitulah iman, meneguhkan perjuangan.
🍃 Wahai manusia, Seru Al Imam Hasan Al - Bashri di suatu hari.
===================
" ... Andaikata seorang muslim tidak memberi nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah Azza wa Jalla, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya.
===================
🍃 Said bin Zubair, sang alim menasehatkan kepada kita juga,
===================
"Seandainya seseorang tidak boleh memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran sehingga ia menjadi orang yang bersih dari semua dosa, maka tidak ada seorangpun yang memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran."
===================
🍃 Bahkan, Rasulullah yang agung nan mulia itupun bersabda,
===================
"Perintahkanlah yang ma'ruf meskipun kamu belum mengamalkannya, dan cegahlah kemungkaran meskipun kamu belum meninggalkan seluruhnya."
===================
🌟 Ikhwahfillah, menjadilah Generasi Rabbani,
===================
"Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (orang-orang yang sempurna ilmu dan ketakwaannya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya."
(Q.S. Ali Imran: 79)
🌟 Jika kita perhatikan, redaksi kalimat terakhirnya adalah urutan proses mengajarkan yang kemudian diikuti dengan proses mempelajarinya.
🌟 Jika memakai logika manusia dan ilmuan, maka yang diutamakan adalah proses belajar dulu baru kemudian mengajar. Muncul pertanyaan sederhana,
⏩ Mungkinkah Allah salah dalam membuat urutan redaksi kalimatnya?
⏩ Barangkali seharusnya "karena kamu selalu mempelajari Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mengajarkannya." Didahului aktifitas mempelajari kemudian di ikuti proses mengajarkan. Begitukah?
⏩ Ataukah kemudian, urutan kalimatnya benar tapi tanpa maksud tertentu?
⏩ Mungkinkah Allah sembarangan dalam membuat redaksi firman dalam Al Quran?
⛔ Tidak! Perintah Allah untuk menjadi Generasi Rabbani mengajarkan kita bahwa semangat yang harus dibangun adalah semangat mengajarkan, semangat beramal. Lantas bagaimana dengan ilmunya? Bagaimana belajarnya? Bukankah berdakwah butuh ilmu? Bukankah beramal butuh bekal?
💢 Yak, benar sekali! Amal membutuhkan ilmu. Tapi siapa yang bisa jamin kalau berilmu pasti beramal? Akan tetapi, dengan membangun semangat beramal, kita akan mempunyai tuntutan untuk memenuhi segala kualifikasi diri sebagai seorang dai, sebagai seorang penyeru.
💢 Dengan membangkitkan semangat beramal, maka seiring dengan sendirinya kita akan terbangkitkan semangat diri untuk belajar dan terus menuntut ilmu. Mencukupkan diri sembari jalan sebagai dai. Karena terkadang, jiwa memang membutuhkan gertakan untuk bangun menyambut seruan Tuhan. Butuh pemantik untuk bangkit.
💦 Teringat tausiyah Ust Adian Husaini, bahwa Nabi Ibrahim as tetap sukses sabagai nabi, meskipun kalah oleh raja zalim bernama Namrud. Sedangkan Iblis yang sukses menipu Adam di surga, Al Quran tidak menyebut iblis sebagai pemenang.
💦 Keberhasilan dakwah tergantung pula dari seberapa kuat kita berperang melawan hawa nafsu dalam diri, seberapa mampu kita menggertak jiwa dan sanubari, membangkitkan semangat amal dan kontribusi, dengan keimanan pada Illahi Rabbi. Yakin! Surga menanti.
🔥 Ya Ikhwahfillah, bakarlah lemak jahat yang menggerogoti ghirah jihad mu, gertaklah azzam muda mu, bangkitkanlah semangat dakwahmu. Serulah ummat menuju surga bersamamu.
===================
[01.06] [08/02/15]
Saat Hirosah di Mukhayam Pandu Keadilan, Bumi Perkemahan Waduk Sermo


0 komentar