Kokohkan Keluarga Indonesia dengan Al Qur'an
Pendahuluan
Adalah tauhid yang terhujam dalam, yang menjadikan Ibrahim patuh kepada perintah Tuhan untuk meninggalkan Hajar beserta Ismail kecil, di lembah yang tandus dan tak bertuan. Berat memang, kepada istri tercinta dan anak yang sudah lama dinantikan kehadirannya, kini Allah meminta Ibrahim meninggalkan mereka.Dan kini kita memetik hikmah, bahwa taudidlah yang mampu menggerakkan diri memenuhi perintah tuhan seberat apapun. Hingga terdengarlah kalimat tawakal itu dari sang istri tercinta, ibunda Hajar berkata,
“Karena Allah tidak mungkin menyia – nyiakan kami”
Dan benarlah, tawakal adalah cara melewati ujian dan perintah yang sebagaimanapun keadaannya. Di lembah yang tandus itu, berdua bersama Ismail balita. Memasrahkan kepada Allah segala harap dan pinta. Bahwa Dia, sungguh tak akan pernah menyia – nyiakan hambaNya yang sedang dalam jalan menaatiNya.
Adalah Hajar dan Ismail balita, adalah buah didikan dari sang Imam keluarga, sang abul anbiya, Ibrahim as. Sedangkan Hajar, adalah pendidik keluarga. Hingga nanti kita dapati buah dari doa yang panjang itu, terlahir geneasi yang mendirikan sholat.
“… ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,…”. (Ibrahim:37)
Mari perhatikan bagaimana keluarga hari ini?
Suami sibuk berkarier, istri sibuk berkarier, anak sibuk dengan dunianya sendiri. Kemudian meningkat angka perceraian justru bersebab dari faktor ekonomi itu sendiri. Lantas bagaimana menanggulangi itu semua?
Mengokohkan Keluarga
Berikut, dua acara mengokohkan keluarga.1. Buat Seisi Keluarga Mendirikan Sholat
Jangan sampai, kebanggaan kepada anak terhadap prestasi duniawi mengalahkan kebanggan atas prestasi sholatnya. Untuk apa pandai, sekolah tinggi, penuh prestasi, akan tetapi lalai terhadap sholatnya. Maka berdo’alah, sebagaimana Ibrahim meminta kepada Tuhan:“Robbij'alnii muqiimas-sholaati wa min zurriyyati, robbanaa wataqobbal du'aak…
… Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah doaku.” QS. Ibrahim: 40
Satu kisah tentang Imam Ahmad bin Hambal barangkali bisa kita ambil hikmahnya, betapa anak yatim ini dibesarkan seorang diri oleh ibu tercinta yang seringkali membersamainya sholat subuh berjamaah di masjid. Dan kelak kita tahu, si yatim ini menjadi ulama terkemuka. Produk dari tegaknya sholat sejak asuhan pertama dari orangtua.
Tapi mari perhatikan paradigma yang ada sekarang ini. Banyaknya pemimpin non muslim yang menjabat di negeri ini, adalah buah dari pemikiran yang salah, produk dari pendidikan yang salah. Hingga terdengarlah satu bentuk pengambilan kesimpulan yang salah pula,
“Ah enggak papa enggak sholat yang penting enggak korupsi”
Seolah, dosa akibat tidak sholat itu tidak seberapa dibandingkan dosa korupsi. Tapi ini yang terjadi di negeri ini. Dari keluargalah semua ini bisa perbaiki. Membudayakan Halal Life, mulai dari makanan, pendengaran, penglihatan, dan lingkungan yang baik dan halal bagi semua anggota tubuh menjadi penting untuk diadakan.
“Rabbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa dzurriyyatinaa qurrata a’yunin waj-’alnaa lil-muttaqîina imaamaaa…
… Ya Tuhan kami, anugerahkan kepada kami, pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati kami, dan jadikan kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa"
QS. Al-Furqan: 7.
2. Banyak Baca Quran
Meyakini bahwa al Quran adalah obat, penyembuh. Maka didik dan warnailah anak dengan memperbanyak mengenalkannya kepada al Quran. Agar anak kokoh ahlaq nya sejak dini, menjadi sholih. Peliharalah anak anak dari lingkungan yang penuh kemungkaran.Peran Ibu
Jika ibu adalah madrasatul ula, maka mempersiapkan ibu yang baik adalah bagian dari mempersiapkan generasi terbaik. Ibu haruslah menjadi guru yang mengajarkan segenap kurikulum, membangunkannya sholat malam. Dan jika ibu adalah guru, maka ayah adalah kepala sekolahnya. Maka penting membangun kerjasama antara keduanya agar kekokohan keluarga tercipta.
Peran Ayah
Sebagaimana saat Ya’kub menjelang ajal, kemudian beliau mengevaluasi kurikulum yang sudah dijalankan untuk mendidik anak anaknya. Maka satu perkara yang beliau gelisahkan terhadap masadepan anaknya adalah,“Apa yang kamu sembah sepeninggalku?”
Benar, aqidah anak keturunan adalah satu perkara yang harus dipastikan kelurusannya.
Kemudian mari dengarkan jawaban anak anaknya,
“Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq”
Bisa saja sebenarnya, mereka menjawab bahwa kami akan menyembah Allah. Tapi redaksinya mari perhatikan dengan seksama, bahwa mereka akan menyembah apa yang sudah disembah oleh orangtuanya dan juga nenek moyang nya. Hal ini menunjukkan bahwa kurikulum pembelajaran yang diberikan Ya’kub kepada anak anaknya berjalan dengan baik.
Berhikmah dari Q.S. Al-Baqarah ayat 133 tersebut, kita dapati tiga kurikulum yang harus dijalankan seorang ayah kepada anaknya adalah,
1. Mengenalkan Tauhid
“Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq…”2. Menjauhkan dari Kemusrikan
“… (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa…”
3. Mendisiplinkan kepada Syariat Islam
“…dan kami hanya berserahdiri kepada-Nya (Muslimun)”Ayah, menjadilah teman bagi anak
Ibu, menjadilah guru.
Disarikan dari tabligh akbar syiar kemerdekaan bersama Ust. Bachtiar Nasir pada 24 Oktober 2015 di GOR Amongrogo Yogyakarta


0 komentar