Sebaik-Baik Nasihat
Beberapa hari sebelumnya, kami masih berangkat tahlilan bareng. Ya, di tetangga sebelah. peringatan empatpuluh harian salah seorang warga. Di lain kesempatan, seorang temen bercerita kalau kemarin sore nya beliau diajak periksa ke rumah sakit, masih nampak seger dan cukup sehat badannya.
Tapi pagi itu tak seperti pagi pada biasanya. Ramai orang berkumpul di halaman masjid, Ya, tepat di depan rumah beliau.
Siapa yang bisa menduga, bahwa siang harinya kemudian saya mengimami sholat jenasah untuk beliau. Siapa mengira, bahwa malam harinya, adalah jadwal kami untuk tahlilan atas nama beliau. Sang istri, lama sekali memandangi keranda yang selesai di sholatkan, sebelum akhirnya dibawa ke kediamannya di pemakaman. Ya, kediaman sementara sampai dibangkitkan nantinya.
Memang seperti itulah kematian. Ia datang tak bersyarat sakit, tak bersyarat usia, tak bersyarat waktu, dan tak bersyarat tempat. Ia sudah terjadwal dimananya, kapannya, kenapanya, dan bagaimana akhirnya.
"Berapa banyak manusia yang masih hidup dalam kelalaian,...." Imam Syafii mengungkapkan keheranannya.
"....sedangkan kain kafannya sedang ditenun" Lanjutnya.
Ya. Kita ini memang seringkali lalai, pada waktu utamanya. Padahal tujuhbelas kali setidaknya kita berikrar di do'a iftitah selepas takbiratul ihram di tiap sholatnya.
"Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,..."
Maka rotasi kehidupan kita adalah,
Antara hidup dan mati kita isi dengan sholat dan ibadah....
Hidup-Hidup-Hidup-Hidup..... Kalau belum tiba saatnya mati ya ibadah terus, sholat terus. Dan seterusnya. Sampai kemudian Allah bilang saatnya pulang.
Kemudian ku hisab mandiri amalku. Betapa masih lalainya aku. Sedangkan kain kafanku sedang ditenun.
[] @Aleikhwan01

0 komentar