Partisipasi
Sebuah tulisan, semacam tentang "liqo"
====================
Ijinkan aku berbicara tentang makna kecil partisipasi kita. Mungkin kau adalah peserta atau juga bahkan pengisi, ataupun sekedar orang yg pernah melihat dan menemui fenomena seperti ini di zaman ini:
"...Ketika beliau keluar tiba~tiba beliau dapati para sahabat suduk dalam halaqah (lingkaran). Beliau bertanya "apakah yang mendorong kalian duduk seperti ini?" Mereka menjawab, "kami duduk berdzikir dan memuji allaah atas hidayah yg all berikan sehingga kami memeluk islam."
Maka rasulullah bertanya"demi allaah kalian tidak duduk melainkan untuk itu?" Mereka menjawab,"demi allaah kami tidak duduk kecuali untuk itu". Maka beliau bersabda, "Sesungguhnya saya bertanya bukan karena ragu~ragu, tetapi jibril datang kepadaku memberitahukan bahwa allaah membanggakan kalian di depan para malaikat"
(HR. Muslim, dari mu`awiyah)
Di tempat inilah disambung forum keteladanan sejarah. Di forum yang seperti dicontohkan para sahabat, para ghuraba`(orang~orang terasing) masa kini mewujudkan sabda nabi bahwa mukmin itu cermin bagi mukmin yang lain. Mereka saling bercermin diri, tentang perkembangan tilawah Al-Qur'an dan hafalannya, tentang sholat malamnya, dan tentang puasa sunnahnya.
Semangatnya tergugah mendengar yang lain menyalip amal~amalnya. Ia jadi malu mendapati dirinya tak dapat mengatur waktu.
Mereka saling menyebutkan kabar gembira sampai semua merasa bahagia mendengar salah seorang sahabatnya mendapat nilai A. Mereka saling berbagi agar masalah tak terasa sendiri dihadapi. Ada yang bercerita tentang amanah~amanah dakwahnya yang katanya semakin mengasyikan atau semakin menantang.
Tentu saja yang lebih utama, mereka mengingat allaah dalam sebuah kumpulan, agar allaah mengingat mereka dalam kumpulan yang lebih baik. Mereka baca kitabullah, mereka kupas isinya, mereka dapati bahwa Al-Qur'an menyuruh bersaudara dalam cinta dan mentauhidkan allah subhanahu wa ta'ala. Tidak ada tekad ketika bubar dan saling bersalaman mendoakan. Selain agar yang mereka bahas menjadi amal kenyataan.
"Tidaklah suatu kaum berjumpa di suatu rumah dari rumah~rumah allaah, mereka membaca kitabullah, dan mempelajarinya diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi majelisnya, malaikat menaungi mereka, dan allaah menyebut~nyebut mereka di depan malaikat~malaikat yang ada di sisiNya"
(HR. Muslim dari abu hurairah)
Disana bisa kita jumpai wajah saudara yang jenaka, yang pendiam, dan yang tampak lelah karena banyak amanah. Tapi subhanallah ini adalah cahaya yang bergetar diantara mereka. Ia bergetar untuk menjadi refleksi jiwa, percepatan perbaikan diri dan perbaikan umat..
Oleh :
Salim A. Fillah
[Dari Broadcast di WhatsApp]


0 komentar