Akhir yang Direncanakan
Kamu pernah melakukannya?
Pagi taat, siang maksiat, sore taat, malam maksiat, pagi tobat siang tobat, sore tobat, malam maksiat, begitu berulang rytmenya. Pernah? Aku iya.
Tahu kenapa? meskipun ada sesal terasa setelah melakukannya, meskipun ada malu kalau ada yang tahu, kamu tahu kenapa? Padahal kita sadar tak tahu di jeda mana ajal menyapa.
Berinteraksi dengan dosa itu ibarat kita main lumpur. Aku mengutipnya dari Kajian tafsir bersama Ust Syatori.
Kamu pernah bermain lumpur sewaktu kecil?
Iya, tak hanya baju, badanpun ikut berlumur kotor sekujur tubuh. Makin lama mainnya, makin banyak kotornya. Nah setelah itu kita kan bebersih badan. Kalau kita bebersihnya ga maksimal, kalau di badan masih ada kotoran yang belum tersabun bersih, maka kalau ketemu lumpur lagi, keinget enaknya saat main sebelumnya, maka mudah bagi kita tergoda main lumpur lagi. Toh, belum bersih sepenuhnya, ga papa kalau kotr lagi, ntar juga mandi lagi. Begitu fikir kita.
Bayangkan bedanya, kalau habis main berlumpur kita bebersih sempurna. Sekujur tubuh mewangi, ganti baju baru yang barusan di laundry, kemudian lihat lumpur, masih mau nekat main kotor lagi? Enggak kan, eman. Udah wangi, udah rapi, yakali mau main kotor llagi.
Maka begitulah tabiatnya.
Kalau kita tobatnya belum sempurna, belum wangi hatinya, belum bersih dirinya, belum terjaga lisannya, ya bawaannya kepengen lagi main dosa, kepengen lagi bermaksiat sia sia. Toh, nanti bisa menobatinya lagi. Begitu mungkin fikir kita. Padahal kita tidak pernah tahu, di jeda mana ajal menyapa kita.
Berbeda kalau kita istighfar sepenuh hati, menyesali untuk tidak mengulangi, mengiringi dengan amal baik sehari hari, maka sayang kalau mau main dosa lagi, eman. Ya kali, mau campur campur dosa ama pahala.
Serupa tulisan saya sebelumnya, mari ingat sholat kita. Selepas salam yang kaii pertama kita ucap adalah istighfar. Semoga Allah sempurnakan ibadah kita, menerima tobat kita, dan menjadikan hati ini membenci kemaksitan apapun bentuknya. Karena kita sudah sama saling tahu, ajal tak bersyarat tobat.
Lantas, bagaimana kita merencanakan akhir hidup ini? dengan apa kita telah mengisi waktu jeda diantaranya?
Astaghfirullahal adzim.
Nasehat untuk diri sendiri.
[] @Aleikhwan01

0 komentar