73599341

Ale Ikhwan Jumali

Berfikir dan berkarya besar. Sesederhana rinai embun yang sabar menunggu mentari pagi.

Latest Posts

Akhir yang Direncanakan (Bagian Dua)

By 09.47 ,

Padahal kita tidak pernah tahu, di jeda mana ajal menyapa kita. Lantas, bagaimana kita merencanakan akhir hidup ini? dengan apa kita mengisi waktu jeda diantaranya?

Kemaksiatan, yang secara bahasa berarti pelanggaran. Sedang menurut Ibnu Taimiyah rahimaullah, ia adalah perbuatan yang menyelisihi dan menentang perintah Allah dan rasul-Nya yang mulia. Dan maksiat, yang seringkali mencengkeramai setiap jeda ibadah kita, ianya tak sama frekuensinya antara satu mukmin dengan yang lainnya.

Ada orang yang, sudah merasa bermaksiat kepada Allah ketika sehari saja tidak tilawah quran, di dalam hati menyesalnya tidak karuan. Ia merasa sudah melalaikan ayat ayat Allah.

Ada orang yang, sudah merasa bermaksiat kepada Allah ketika ketinggalan sholat subuh berjamaah. Ia merasa kehilangan dunia dan seisinya. Merasa mendurhakai Allah dengan kelalainnya.

Ada orang yang, sudah merasa bermaksiat kepada Allah, ketika seminggu terakhir tidak mampu Qiyamul Lail, tak menegakkan sholat malam. Padahal waktu tersebut Allah turun ke bumi untuk mendengar dan mengabulkan semua pinta hambaNya. Maka sang mukmin merasa dalam kerugian, sepekan terlewatkan sholat malam.

Ada orang yang, sudah merasa bermaksiat kepada Allah, saat rela terjaga tengah malam untuk menonton pertandingan bola. Padahal ada banyak aktifitas ibadah yang bisa di pilah untuk di pilih, daroada sekedar menonton bola. Ia merasa lalai, kemudian menyesali.

Ya, ada orang yang merasa bermaksiat walau sekedar meninggalkan amalan sunah. Merasa mendurhakai Allah karena tidak menyempurnakan janji cintanya kepada sang nabi.

Tapi,

Ada orang yang, baru merasa bermaksiat kepada Allah ketika dia mencuri, ketika dia berzina, ketika dia memandang dan menonton yang bukan haknya. Ya, ada. Meskipun ia masih malu malu melakukannya, di dalam kesendirian saat tak ada yang memperhatikannya. Ia sadar Allah tahu semuanya. Maka, ia menyesali kemaksitannya.

Tapi, adalagi...

Orang terang terangan melanggar aturan, bahkan membanggakan dan mengajak orang lain mengikutinya. Yang seperti ini, bukan ia tidak tahu, tapi memang sudah dibutakan hatinya.

Entah, di frekuensi mana hati ini memandang kemaksiyatan. Padahal ajal tak bersyarat tobat. Lantas, kenapa masih berani melakukan perbuatan yang sia sia?

Dan karena kita tak pernah tahu di jeda mana tuhan memanggil kita, mari merencanakan kebaikan di setiap jeda yang Allah berikan. Memperbanyak istighfar, memohon hidayah dan inayahNya.

[] @Aleikhwan01

You Might Also Like

0 komentar