Ngaret Membudaya
Gak usah terlalu fokus ama foto tiga jam tangan nya, gue kagak ada
ikatan kerja ama brand manapun dan tidak dalam rangka ngiklanin merk apapun.
Jam paling kiri boleh nemu, masih bagus, tapi karena warnanya terlalu girly,
gengsi gue makainya. Yang tengah ga terlalu bagus karena harganya cuma 35k beli
di pameran buat gaya-gayaan biar kekinian, punya jam tangan. Yang paling kanan,
boleh nemu juga. Pernah rusak terus gue servis in, tapi seminggu kemudian rusak
lagi, nyebelin tauk. Apasih, ga penting banget bukan?
"Waktu terus berlalu. Tanpa kusadari yang ada hanya, aku dan
kenangan. Masih teringat jelas, senyum terakhir yang kau beri untukku"
Yang nglewatin masa mudanya di era sembilan puluhan, pasti bacanya
sambil nyanyi. Tak bisa dielakkan lagi, itu memang lagunya Element, Rahasia
Hati.
Ya, masih tentang waktu. Gue sering denger orang-orang menyematkan kata
molor dan ngaret kepadamu. Padahal, apa salahmu wahai kolor dan karet? Sehingga
orang begitu banyak membencimu.
Masih teringat jelas, tapi bukan tentang senyum terakhirnya si doi
kepadaku. Bukan. Karena nyatanya, tak sedikitpun dia sadar atas rasa yang
tumbuh menggelegar menjalar di semua persendianku. Ini apasih? Fokus fokus. Ya,
masih teringat jelas dulu sewaktu berlembaga berjiwa mahasiswa muda. Kalau ada
seribu agenda rapat yang pernah gue ikuti, maka 800 nya tak tepat waktu. Yang
200 lagi bagaimana? Jangan kau tanyakan pada rumput yang bergoyang, sudah jelas
sama saja, ngaret dan molor dimana-mana.
"Pak, yang lain kemana?" Keluh seorang rekan lembaga
menampakkan kejenuhannya. Wajar saja, ini anak memang istiqomah tepat waktu
kalau ada rapat dan janji.
"Tugas kamu itu satu: Ontime. Tidak perlu mengeluhkan kemana yang
lain kok belum datang. Biarkan energi kebaikanmu mewarnai" Jawab ku
meyakinkan. Gue emang seringkali mendadak bijak kalau lagi punya duit banyak.
Apa hubungannya? Sudahlah lupakan.
"Ah, ga papa, nanti juga molor mulainya, kita ajukan saja waktu di
undangannya, untuk estimasi ngaretnya" Ada panitia acara yang begitu?
Buaaanyaaakk. Bayangkan saja, kita ini sudah kadung molor sejak dalam fikiran.
Lalu bagaimana? Ya yang sudah terbiasa ontime dilanjutkan, jangan
pedulikan kultur kebanyakan. Datanglah tepat waktu memenuhi janji sebagaimana
jadwal yang diberikan. Sembari nunggu yang lain datang, kamu bisa ikut Dora The
Explorer berpeluang, atau pergi ke barat sama Sun Go Kong ngambil kitab suci,
atau ngebantu Son Go Ku ngumpulin Dragon Ball dulu. Atau kalau mau edisi sholih
sholihah, bisa buka mushaf dan tilawah. Menunggu itu terasa lama jika sembari
mengeluhkan keadaan apalagi cuma bengong nungguin yang lain datang. Pernah kamu
di lampu merah baru buka gadget belum sempet bales pesan lampu ijo udah jalan?
Terasa cepet sekali bukan? Beda jika kamu cuma ngeliatin Count Down nya sambil
ngikutin itungannya dalam hati, akan terasa lebih lama, kan?
Kembali lagi pada perkara waktu. Jangan biarkan ngaret ini menjadi
kultur membudaya, dzolim namanya. Dan bagi yang sering telat memenuhi janji,
ngaret datang rapat koordinasi, molor kalau ada instruksi, dengan alasan masih
ngurus itu dan ini, gue mau bilang, ini namanya penghinaan! Kamu kira yang
sering ontime itu pengangguran?
Ayo penuhi muwashofat diri. Harisun al Waqtihi.
@Aleikhwan01
Sedang menasihati diri sendiri.

0 komentar