Komitmen
"Tak kan pernah habis airmataku, Bila ku ingat tentang dirimu..."
Ya, barusan yang kau baca sambil nyanyi itu penggalan lagunya Kerispatih, Mengenangmu. Tapi bukan itu yang mau kita tadabburi. Ini tentang rutinitas tak bertepi yang seringkali melelahkan kita sehari hari.
"Alwaqtu kas-saif, waktu ibarat pedang... idza lam taqtha’ahu, jika kamu tidak memotongnya... qatha’aka, maka dia akan memotongmu” Kamu pernah mendengarkan, bukan? Mengerikan.
Utamanya pada urusan dunia, semakin kita kejar, semakin melenakan. Pernah kamu mengalaminya? Seringkali aku berdarah-darah menghadapinya. Saya kira urusan ini jadi urusan terakhir hari ini, sehingga sore nanti bisa bercengkerama tilawah mesra menyelesaikan targetan harian yang seringkali diduakan. Ternyata adalagi urusan susulan. Semakin aku berpayah-payah bernafsu menyelesaikan, saat itu juga waktuku semakin terasa sempit hingga terlenakan. Maka bijak sekali ulama menasihati, andai seorang manusia memiliki satu lembah emas, niscaya ia akan menginginkan satu lembah lagi untuk dimiliki. Dan begitu seterusnya. Dan semua urusan ini begitu mudah membuat kita lelah, tahu kenapa?
“Dialah yang menjadikan bumi mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari RIZKI-Nya.”
(QS. Al-Mulk : 15)
Ya, berjalanlah. Berjalan saja. Tapi kita seringkali berlari mengejar dunia, tapi usaha seadanya saja untuk urusan yang jauh lebih indah setelahnya. Padahal jelas perintahnya,
“Maka berlarilah kembali ta’at kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzaariyat : 50)
Sedang kita ini, seringkali terbolik-balik menempatkan urusan, pantas saja mudah lelah menjalaninya.
Sekali lagi, urusan dunia ini takkan pernah ada habisnya, sebanding lurus dengan fitrah syahwat manusiawi, takkan pernah puas seberapapun dipenuhi. Lalu kapan kita akan benar-benar meluangkan waktu bercengkerama dengan al Qur'an, atau bermunajat malam-malam, atau duduk melingkar sepekan-pekan, atau sholat jamaah tanpa menyegerakan berpindah shaff duduknya, atau.... Kapan?
Termasuk kebodohan jiwa, kata Ibnu Athoilah dalam al Hikam, apabila kita menunda amal atas keluangan waktu yang dimiliki.
Kita ini ya, tidak sempat apa tidak mau menyempatkan? Sibuk atau tersibukkan? Atau kebanyakan mengambil rukhsoh sebagai alasan?
Ya, dia memang bagai pegang. Hingga kita sadar nantinya, bahwa takkan pernah habis air mata ini menyesalinya, bila mengingat kelalaian waktu atas amal yang tak tertunaikan.
Ada yang lebih celaka lagi dari orang yang tersibukkan, yaitu ketika urusan dunia tak begitu kepegang, kualitas ibadah juga tak ada peningkatan.
Yaa Allah...
Bagaimana kami ini?
Begitu seringnya kami berdoa meminta surgaMu, tapi tak begitu bagus komitmen kami terhadap waktu.
[] @Aleikhwan01

0 komentar