Wasiat Taqwa
Ikhwahfillah,
ini sesungguhnya wasiat taqwa yang lebih tepat dibacakan ke telinga saya pribadi, tapi saya ingin berbagi. Semoga setelah ini saya bisa lebih tergerak untuk mengamalkan nya.
==================
"Wahai orang orang yang beriman! Bertobat lah kepada Allah dengan tobat yang semurni murni nya..."
[QS At Tahrim : 8]
Barangkali, ada yang bisa kita tadabburi sari ayat ini. Pemilihan objek yang di seru, "Wahai orang orang yang beriman..." Padahal ada banyak objek, wahai manusia, wahai orang yang bertaqwa, wahai orang kafir, wahai orang musyrik, dan lain sebagainya.
Apakah yang banyak dosa itu orang beriman? Bagaimana dengan yang kafir, yang musyrik, kenapa bukan mereka yang di seru? Kenapa bukan mereka yang dipanggil?
Aaah, kita ini barangkali yang terlalu merasa aman. Dan barangkali pula, kita yang masih keras hati nya ini, tidak merasa dan tidak terpanggil atas panggilan yang menggetarkan itu.
Sekali lagi,
"Wahai orang orang yang beriman... "
Barangkali, Allah hendak menantang keimanan kita, menghardik nya agar terbangun dari tidur nya. Karena iman butuh pembuktian, maka kita yang harus mengikhtiyarkan pembuktian itu.
Ya,
"Wahai orang orang yang beriman... "
Wahai orang orang yang percaya,
Jika kamu beriman, jika kamu percaya...
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu menyelesaikan segala urusan mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu mengabulkan hajat mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu melunasi hutang hutang mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu mendatangkan jodoh mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu melapangkan rejeki mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu menyelesaikan beban studi akademik mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu memberikan pekerjaan kepada mu,
Dan jika kamu percaya bahwa Allah maha kaya dan maha luas kerajaan Nya,
Kenapa kamu tidak meminta nya?
Kenapa kamu tidak menjemput nya?
"Wahai orang orang yang beriman... "
Jika kamu percaya itu semua, jika kamu mengharapkan hajat mu terkabul kan. Maka bertobat lah dulu. Barangkali, ada satu dosa yang tidak kita sadari dan membuat kita jauh dari rahmat Allah. Barangkali, ada satu dosa kita yang membuat Allah murka dan urusan kita menjadi sempit.
Bagaimana dengan tilawah harian kita, sholat jamaah di awal waktu kita, sedekah pagi yang tergantikan dhuha kita, Qiyamul Lail yang menguatkan jiwa, mata kita yang melihat bukan pada hak nya, dan lain sebagainya...
Bukan, barangkali bukan karena kubangan dosa besar atas kemaksiatan yang kita lakukan yang Allah maksud. Barangkali karena amalan amalan wajib kita dan rutinitas ibadah kita yang belum sepenuhnya kepada Nya, yang belum merasakan ke dalam jiwa sebagian bentuk penghambaan kepada Nya. Jangan jangan bari sebatas pengguguran kewajiban.
Ya, barangkali Allah hendak berbicara kepada kita,
"Wahai orang orang yang beriman... "
Jemput lah pertolongan dari Ku dengan bertobat. Niscaya Aku akan menyelesaikan segala hajat mu..
Dan bukankah, salah satu adab kita sebelum menghaturkan segala hajat kita ke langit, kita dianjurkan untuk mengakui kesalahan kesalahan kita, beristighfar kepada Nya, baru kemudian bermunajat doa?
Ya Rabbi, ampunilah kami....
Astaghfirullahal adhim...
==================
@Aleikhwan01
ini sesungguhnya wasiat taqwa yang lebih tepat dibacakan ke telinga saya pribadi, tapi saya ingin berbagi. Semoga setelah ini saya bisa lebih tergerak untuk mengamalkan nya.
==================
"Wahai orang orang yang beriman! Bertobat lah kepada Allah dengan tobat yang semurni murni nya..."
[QS At Tahrim : 8]
Barangkali, ada yang bisa kita tadabburi sari ayat ini. Pemilihan objek yang di seru, "Wahai orang orang yang beriman..." Padahal ada banyak objek, wahai manusia, wahai orang yang bertaqwa, wahai orang kafir, wahai orang musyrik, dan lain sebagainya.
Apakah yang banyak dosa itu orang beriman? Bagaimana dengan yang kafir, yang musyrik, kenapa bukan mereka yang di seru? Kenapa bukan mereka yang dipanggil?
Aaah, kita ini barangkali yang terlalu merasa aman. Dan barangkali pula, kita yang masih keras hati nya ini, tidak merasa dan tidak terpanggil atas panggilan yang menggetarkan itu.
Sekali lagi,
"Wahai orang orang yang beriman... "
Barangkali, Allah hendak menantang keimanan kita, menghardik nya agar terbangun dari tidur nya. Karena iman butuh pembuktian, maka kita yang harus mengikhtiyarkan pembuktian itu.
Ya,
"Wahai orang orang yang beriman... "
Wahai orang orang yang percaya,
Jika kamu beriman, jika kamu percaya...
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu menyelesaikan segala urusan mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu mengabulkan hajat mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu melunasi hutang hutang mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu mendatangkan jodoh mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu melapangkan rejeki mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu menyelesaikan beban studi akademik mu,
Jika kamu percaya bahwa Allah mampu memberikan pekerjaan kepada mu,
Dan jika kamu percaya bahwa Allah maha kaya dan maha luas kerajaan Nya,
Kenapa kamu tidak meminta nya?
Kenapa kamu tidak menjemput nya?
"Wahai orang orang yang beriman... "
Jika kamu percaya itu semua, jika kamu mengharapkan hajat mu terkabul kan. Maka bertobat lah dulu. Barangkali, ada satu dosa yang tidak kita sadari dan membuat kita jauh dari rahmat Allah. Barangkali, ada satu dosa kita yang membuat Allah murka dan urusan kita menjadi sempit.
Bagaimana dengan tilawah harian kita, sholat jamaah di awal waktu kita, sedekah pagi yang tergantikan dhuha kita, Qiyamul Lail yang menguatkan jiwa, mata kita yang melihat bukan pada hak nya, dan lain sebagainya...
Bukan, barangkali bukan karena kubangan dosa besar atas kemaksiatan yang kita lakukan yang Allah maksud. Barangkali karena amalan amalan wajib kita dan rutinitas ibadah kita yang belum sepenuhnya kepada Nya, yang belum merasakan ke dalam jiwa sebagian bentuk penghambaan kepada Nya. Jangan jangan bari sebatas pengguguran kewajiban.
Ya, barangkali Allah hendak berbicara kepada kita,
"Wahai orang orang yang beriman... "
Jemput lah pertolongan dari Ku dengan bertobat. Niscaya Aku akan menyelesaikan segala hajat mu..
Dan bukankah, salah satu adab kita sebelum menghaturkan segala hajat kita ke langit, kita dianjurkan untuk mengakui kesalahan kesalahan kita, beristighfar kepada Nya, baru kemudian bermunajat doa?
Ya Rabbi, ampunilah kami....
Astaghfirullahal adhim...
==================
@Aleikhwan01


0 komentar