Akan Seperti Apa Kita Menghadap Nanti
Apa yang kamu rasain?
Lagi asyik ngobrol sama rekan dekat terus kamu bersendawa kemudian mereka ngeliatin kamu dengan tatapan penuh rindu. Atau pas lagi serunya rapat ngebahas konspirasi penyelundupan para tuna asmara, saat dengan tiba tiba tak terkendali kentutmu bersuara. Atau pas lagi di kelas, guru minta kamu ke depan ngerjain PR dan kamu ga bisa ngerjain dan dikelas itu ada si fulanah yang kamu taksir buat jadi teman hidup selamanya. Atau saat kamu typo kalimat tak senonoh di japrian mu sama si doi yang kau puja. Atau hal konyol lainnya yang bikin muka pucat pasi bagai susu basi. Apa yang kau rasa?
Pernah kamu ngalamin itu?
Ya, malu sih kalau aku. Seolah rasanya setelah itu kepengen lari ke pantai lalu belok ke hutan dan teriak sekenceng kencengnya. Atau naik pohon yang tinggi, terus bergelantungan di akar-akarnya, hanya untuk menjelaskan ke dunia bahwa aku ga seburuk itu aslinya. Terutama dan paling utamanya, kepengen bur buru ngejelasin ke si doi agar cintanya ga berpaling ke lain hati.
Ini baru kesalahan - kesalahan kecil dunia yang belum tentu orang peduli sama kita. Dan kita sudah ngerasa punya aib gedhe yang kudu ditutupi, kalau bisa konferensi pers ke media untuk menjelaskan klarifikasinya. Lalu bagaimana dengan kesengajaan kita melakukan kesiasiaan amal dan juga kelalaian ibadah kepada Allah swt? Padahal tak ada yang bisa luput dari pengawasanNya. Mau lari kemana kita dariNya?
Ketika tiba hari dimana semua dibuka. Amal amal kita, aib aib kita, kebaikan dan kesalahan kita. Mau lari kemana kita. Malu? Pasti, semalu malunya. Kekonyolan sederhana saja malunya begitu di hadapan manusia. La ini, kita punya aib di hadapan pencipta kita, Malu semalumalunya. Dimana dihari itu, saking takutnya, ada yang keringatnya membanjiri telapak kaki, ada yang selutut ada yang sedada, bahkan ada yang tenggelam oleh keringat karena takut dan malu saat diadili Yang Maha Kuasa. Bisa lari kemana kita?
Andai saja, tiap satu aib dosa yang kita lakukan ditampilkan satu noktah dalam tubuh, mungkin saja tubuh kita udah penuh oleh bintik itu. Mata yang tak terjaga, hati yang berdusta, sholat yang tak genap jamaahnya, tilawah quran yang lalai kesehariannya. Apa kita tidak malu melakukannya. Kalau sama si doi yang kita cinta saja malunya sebegitunya, lalu bagaimana kepada Baginda Nabi Muhammad yang kita daulat jadi qudwah teladan, lalu bagaimana kepada Allah yang menguasai setiap jengkal kehidupan?
Astaghfirullahuladzim. Ampuni kami, Ya Rabbi.
Terimakasih untuk semua aib yang Engkau tutupi, terimakasih untuk kesempatan hdup yang masih Engkau beri.
Catatan untuk diri sendiri
@AleIkhwan01

0 komentar