Rolling – Regrouping: Ujian Keikhlasan dan Kesabaran (Edisi Revisi)
Sekali kali gue mau nulis genre haroki tarbawy, tentang majelis pekanan yang tak rindukan. Kamu pasti belum nonton bioskop nya kan? Apaan sih XD
Dalam jamaah dakwah ini, ketokohan dan figuritas jadi dua perkara yang kudu diberantas. That's why, konsep yang dibangun jamaah adalah sistem halaqoh, liqo pembangkit ghiroh, tempat di mana semua orang berhak dan bisa mengakses kesempatan saling berbicara. Tidak ada yang lebih dominan antara satu dengan yang lainnya, termasuk dominasi Murabbi sekalipun. Ya, Catet ini. Termasuk peran Murabbi sekalipun. Ya, guru ngaji yang ngampu majelis pekanan tak dirindukan itu, yang berhak ngasese kita punya proposal, yang titah takliwat nya jadi perkara sakral, yang taujih tausiyah nya menyulut hamazah, doi bukanlah sang penentu kemana bidak jamaah dan kapal dakwah akan dibawa, bukan penentu riuh renyah dan sepinya liqoat kita, bukan! Semua mempunyai peran.
Selanjutnya, yang dibangun adalah konsep keikhlasan dan kesabaran. Itulah kenapa, seringkali ada intruksi mendadak, liqoat pindah tempat, ganti jadwal dan lain hal, pernah ngalamin itu? Kalau belum, mungkin aja grade kelompok mu belum kategori militan. Ini bagian dari ujian keikhlasan dan kesabaran jundi mutarabbi dalam mengikuti setiap aktifitas tarbawyahnya.
Termasuk adalah, saat adanya Rolling - Regrouping. Ini bagian dari ujian ketokohan dan juga semangat kejamaahan. Murabbi yang faham kondisi binaan, ketika sudah mulai nampak jenuh majelis nya, kalau dilihat sudah nampak terlalu akrab sesama anggota atau justru terlalu kering majelisnya, ketika sudah nampak terlalu asyik dengan Murabbinya atau justru terlalu kaku dan beku seolah berhadapan sama mantan, maka saat itulah akan dilakukan proses Rolling Murabbi Regrouping binaan.
Maka, dalam prosesnya (Regrouping - Rolling) akan dilihat, mana yang berangkat liqonya karena Murabbi, mana yang ikhlas. Mana yang berangkatnya karena temen mana yang totalitas. Figuritas dan ketokohan diuji sedemikian rupa.
Nanti akan terjawab, sebenernya selama ini kita ngaji itu karena siapa dan karena apa?
Jika ikhlas, ya tidak peduli akan dapat Murabbi yang seperti apapun bentuknya. Jika ikhlas, juga akan tidak peduli lagi dapat kelompok baru yang bagaimana pun juga. Karena ngajinya lillah, ngajinya fillah.
Salah satu penyakit yang melanda, pasca Regrouping dan Rolling Murabbi adalah membanding bandingkan. Murabbi yang dulu dan yang sekarang, kelompok lama dan yang baru datang.
"Wah, Murabbi barunya ga kayak yang dulu, yang ini kaku kayak kanebo dipanasin" ati ati lo kualat ntar, proposalmu ditahan kaga nikah nikah baru tahu rasa.
"Ah, temen temennya asyiekan yang dulu, lebih kece, nyenengin dan ngangenin. Yang sekarang payah lemah, mutabaah yaumiyah kaga pernah nambah"
Dan perbandingan lain sebaliknya juga terjadi seperti itu.
Itulah beberapa penyakit hati. Yang akhirnya berujung kemalasan dan mengotori keikhlasan. Padahal sesungguhnya, kehadiran orang orang di sekitar kita, adalah tidak lain merupakan, sarana Tarbiyah yang Allah hadirkan untuk kita. Menguji kesabaran, menguji kedewasaan.
Belum lagi saat merasa,
"Yah, Murabbi nya payah. Materinya itu itu terus, malahan lebih sering tiap liqo gak dapat materi. Kalaupun ngasih, materi juga sedikit. Gak bergairah. Yah, ini mah mending ga usah liqo kalau Murabbinya kaya gini. Toh, Kajian ada dimana mana juga"
Yak ampun, Akhi. Lu kira ini taman pendidikan dengan segenap kurikulum materi bertubi tubi? Atau semacam ma'ad nana nina syalala yang kurikulumnya kudu selesai itungan bulan? Bertobatlah sebelum terlambat. Ini bukan majelis materialistis, yang nargetin materi ini itu harus selesai cepat waktu, bukan! Ini proyek peradaban, Liqo itu program jangka panjang.
Kalimat pengandaian diatas tadi, Itulah penyakit penyakit hati yang syaitan tiupkan, agar kita lepas dari jamaah, ndhok Liqo, biar ndak ada yang ngontrol amalan yaumiyah, biar mencukupkan diri hanya dari kajian keilmuan tanpa tuntutan amal nyata di lapangan. Agar kita memilih menyendiri dan terlepas dari keberkahan. Kamu mau yang seperti itu?
Jikalau memang demikian, merasa Murabbinya ga berkualitas, forumnya kering tanpa peningkatan, kenapa bukan elu yang menginisiasi perubahan? Kenapa bukan elu yang mengisi liqoat itu?
La trus Murabbinya sendiri bagaimana?
Ya murabbi tetap Murabbi, elu tetap Mutarabbi. Karena liqoat itu, bukan sekedar menerima materi, tapi memberi dan berbagi. Kitalah yang harus berbagi, kitalah yang harus menjadi bagian dari dimensi perbaikan. Bukan hanya menuntut, apalagi memaki. Dasar! Nenek nenek habis mandi di kali juga tahu kalau mati lampu itu gelap. Elu kudu nyalain lilin, ambil peran, bukan cuma datang duduk ngantuk terus bangun saat makan terus pulang. Liqo macam apa itu?
Gan, bersabarlah. Ambil peran. Karena bisa jadi, pahala terbesar dan terbaik kita, saat bersabar sabar yang panjang, saat berkawan keikhlasan. Dan di situlah, keberkahan kita harapkan. Liqo itu beda ama kajian, maka lu jarang nemuin materi fiqh sholat sembahyang ataupun ibadah mahdoh lainnya. Ada, tapi tidak mendalam. Seputar itu, lu carinya di kajian, yang Ust nya gelar Lc lulusan pondok pesantren dan universitas luar negeri. Kalau elu ngarepin Murabbi sekelas mereka, coba ngaca dulu, nyermin lihat kualitas diri. Berangkat aja masih angkot angkot an, ya eman sayang kalau waktu mereka harus dihabiskan sama kamu.
Ikhwah yang dirindukan surga, di Liqo itu beda, yang dibangun semangat beramal nyata, peningkatan ukhuwah berkeluarga, persatuan ummat islam dalam menghadapi perbedaan. Seputar fiqhnya mana? Ada kok, ntar. Setidaknya tentang fiqh munakahat, suka kan? Fiqh favoritnya para Bujang. Ngaku aja.
Sabar saja, lama lama juga ada Rolling Murabbi dan Regrouping lagi kok, nikmati saja proses nya. Kalau sama urusan sepele begini aja masih kaga taat menjalaninya, ya bagaimana mau teriak teriak tegaknya islam dalam satu komando panglima perang? Ngimpi di Hari Senin ya? Buruan bangun, siapin dasi topi, jangan lupa kaos kaki dan ikat pinggang, jadwalnya upacara bendera.
Selamat menikmati dinamika dalam lingkaran cinta yang tak bertepi ini. Karena tanpamu, lingkaran ini menjadi begitu tidak berbentuk. Datang yang rajin yaa, sebagaimanapun kondisinya, berbahagia dan bersemangatlah menjalaninya...
Ila liqo ☺
[]
Salam single,
@Aleikhwan01

0 komentar