Menghitung Waktu
Bahwa satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia, kamu mendengarnya? Ia, QS Al Hajj: 47 memberitahukannya kepada kita,
“Sesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.”
Ini perhitungan bagi orang mukmin, sudah sedemikian jauh perbandingannya. Kalau untuk orang kafir bagaimana?
“Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun”
Ya, benar. Terkhabarkan dari QS. Al Ma’arij: 4. Ayat ini menggambarkan kesulitan yang akan dialami oleh orang kafir di akherat nanti.
Tarohlah, umur kita ngikutin sunah nabi, enam puluh tiga tahun. Atau mau minta di panjangin dikit jadi seratus tahun. Maka dengan persamaan matematika distribusi substitusi konsumsi transportasi, maka konversi hidup kita ini hanya sekitar 2,4 jam saja dalam hitungan akherat. Lah kok bisa? Bingung itungannya? Buka lagi noh pelajaran matematika jaman smp nya yak. Itu, hitungan bagi orang mukmin, kalua hitungan orang kafir lebih singkat lagi.
Lalu, apa yang mau kita banggakan dari hidup yang singkat ini? Apa yang mau kita cari dari kehidupan yang fana ini? Padahal akherat jauh lebih kekal. Betapa ruginya jika segala yang kita lakukan bukan untuk mencari bekal, padahal sadar datangnya ajal tak bisa diajak berkompromi.
Tarohlah kita punya amalan unggulan sholat yang lima waktu, itu yang mau kita jadikan hujjah untuk meminta surge kepadaNya. Bersebab pula, amalan ini yang kali pertama ditanya dalam persidangan yang tak seorangpun bisa lari menghindarinya. Mari perhatikan bagaimana sholat kita.
Berapa lama kita menghabiskan waktu di sekali jadwalnya? Ya, rata rata lima belas menit saja. Sudah termasuk qobliyah bakdiyah yang sunah dan juga dzikir dan doanya. Itupun masih nyempetin ngecek notifikasi, balas pesan japrian dari seorang ukhty, update status berbagi motivasi, bahkan ada yang tetiba keluar masjid untuk ngangkat telepon atau ada yang ga jadi masuk masjid dulu karena ada panggilan mendesak dari relasi kerja yang harus segera di tindak lanjuti. Kalau ketemu orang yang begini bawaanya pengen meluk dari belakang terus gue bisikan pake mesra di telinga si doi,
“Eh, Mas. Sibuk bener urusannya. Apa kaga bisa ditunda dulu barang sebentar saja?”
Aduuuh, sesibuk itukah kita?
Seberani inikah kita menunjukkan kesibukan kita di hadapan Dzat yang maha sibuk? Bahkan di jeda waktu sholat kita yang lima, kita masih menyempatkan beraktivitas pada urusan remeh temeh, Tidak malukah kita pada Dia?
"Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan." (QS. Ar-Rahman, 55: 29)
Jika saja, lima belas menit itu istiqomah diluangkan sepenuhnya untuk sholat yang lima, maka sehari kita hanya memberikan 1,25 jam saja. Lantas kemana yang 22,75 jam nya? Lantas apa hujah yang akan kita bawa di hadapan Allah nantinya? Di waktu yang hanya setara 2,4 hitunagn akherat ini, mari perbaiki kualitas sholat kita.
Ya, dari yang sederhana dulu. Setidaknya jangan ada gadget diantara kita. Risih tauk, kalau pas lagi pura pura khusuk qobliyah bakdiyah dzikir dan doa, terus disamping kanan kiri ada yang lagi main hape. Kan gue jadi beneran kaga khusuk.
Mari menghitung waktu, mempersiapkan akhir yang baik, dengan sebaik baik persiapan dan rencana. Menuju satu perjalanan yang panjang nan kekal di surga.
[] Penutup dari Sequel Akhir yang Direncanakan
Akhir yang Direncanakan (Bagian Satu)
Akhir yang Direncanakan (Bagian Dua)
[] @Aleikhwan01

0 komentar