73599341

Ale Ikhwan Jumali

Berfikir dan berkarya besar. Sesederhana rinai embun yang sabar menunggu mentari pagi.

Latest Posts

Kemesraan Ukhuwah

By 09.54 ,

Kemajuan teknologi, mudahnya kepemilikan perangkat aplikasi, dan tawaran berbagai pilihan media komunikasi, ngebuat kita mencukupi diri dengan berinteraksi virtual sosial media. Kamu termasuk generasi seperti ini? Padahal dunia maya rawan memicu konflik dan kesalah fahaman. Kamu tidak khawatir kalau nantinya ada dusta diantara kita? Ngiayahaha.

© Kesepakatan Hati

Bahasa itu, tidak lain hanyalah masalah kesepakatan saja. Ya, aku mengutip nya dari kalimat Ust Salim A Fillah.

Kesepakatan bahwa kamu faham maksud ku, akupun faham maksud mu. Faham bahwa kamu sedang mengungkapkan rasa cinta atau bahkan kebencian. Faham bahwa kamu sedang bahagia atau bahkan kecewa. Kamu pun begitu, memahami ku sebagaimana aku aslinya. Karena tidak bijak jika kita harus saling menjadi sebab.aku menjadi baik atau menjadi buruk sebab kamu, kamu menjadi baik atau menjadi buruk sebab aku. Tidak, aku tidak menyepakati itu. Aku lebih suka jika kita sama sama mengakui bahwa perbedaan kita tidak harus disamakan. Hanya bahasa percakapan kita yang harus di setarakan. Romantis, kan? Setara lah kalau dibandingkan sama film korea.

Dengan begitu, masing masing jiwa mempunyai kesepakatan bahasa dalam mengungkapkan ukhuwah nya.

Ada yang saling sapa Akhi Ukhty, ada yang Akhina Ukhtina, ada yang bro dab bray, ada yang mblo jomblo, dan lain sebagainya.

Ada yang ngobrol nya afwan jiddan syukron ane antum jazakumullah, ada yang maaf banget terimakasih aku kamu semoga menjadi satu. Upz, salah diksi.

Ada yang saling maki lemah payah buset bangke dan lain sebagainya untuk berbagi semangat juga keakraban hati.

Ya, jelas. Masing masing punya frekuensi nya. Tidak ada larangan dalam hal ini. Bermuamalah itu, yang tidak boleh menyakiti hati saudaranya. Jika dengan kalimat saling sapa bisa tersakiti, khawatir nya ukhuwah mu baru sampai di hati, belum sampai ke Allah, sang penguasa hati itu sendiri.

© Fenomena Sosial Media

Aku mau tanya dulu, kamu ga tahu ya pasti? Syifaaul quluub bi liqooil mahbuub. Obatnya hati itu, bertemu dengan yang dicintai. Begitu pepatah arab nya berkata. Itulah kenapa, seringkali terjadi saling sangka dan menghakimi di sosial media. Sebut saja Grup Whatsaap misalnya. Karena narasi tanpa titik koma kurung tutup (emoticon kepala kuning), sebercanda apapun serasa garing atau justru menyakiti hati. Serupa sebaliknya, senyinyir apapun kalimat nya, kalau ada tambahan kepala kuning LOL di akhir kalimat nya, akan terasa justru sejuk menentramkan jiwa. Maka hati hati, ada yang sampai linglung berhari hari karena habis dapat emoticon cium jauh dari seorang ukhty, padahal si doi kaga sengaja itu ngasih nya.

Belum lagi sering nya merasa asing di keramaian, karena pembahasan salah seorang pasangan akhi yang seharusnya di japri saja malahan menjadi konsumsi grup dan menambah notifikasi. Mungkin kamu lupa, ini bukan kamar pribadi mu yang hanya boleh berlaku aturan kamu. Ini bagian dari konsekuensi bersosial media, semua warga berhak mengekspresikan ukhuwah nya di sana.

Enggak berfikir left grup hanya karena beginian kan? Kamu lupa ya, saat islam. Kembali Jaya nanti, saat khilafah berdiri, itu bukan karena keburukan dan kejahatan tidak ada lagi. Tapi karena kebaikan sudah mendominasi.

Maka, jika kamu merasa grup nya sepi, ramaikanlah, jika materi pembahasan nya kampungan, kamu warnailah. Jangan cuma mengeluh. Nenek nenek habis mandi juga tahu mati lampu itu gelap, kamu harus nyalain lilin, jangan mengeluhkan keadaan.

Jadi, tetaplah tinggal. Bangun kemesraan ukhuwah menurut kebaikan di versi mu. Dominasi forum dengan pembahasan bermutu versi kamu. Karena bukankah, langit tak perlu bercerita kepada bumi kalau ia tinggi?

Tentu, kamu ga harus sepakat dengan konsep ini. Nyatanya memang, ini bukan hadits nya rasul apalagi fatwa ulama terkemuka, yang tak lain ini hanyalah teori lepas pujangga yang yang sedang mencari cinta sejatinya. Kamu juga boleh membuat teori pembanding atasnya, nanti kita ketemu di Mahkamah Konstitusi untuk menyelesaikan nya. Karena apapun bentuknya, korupsi tetap harus di basmi, loh!
[]

Sepenuh ukhuwah,
@Aleikhwan01

You Might Also Like

0 komentar